RUSIA, POSKOTA.CO.ID - Filsuf politik ini meramalkan pertumpahan darah di Ukraina.
Dia secara aneh dijuluki sebagai “Otak Putin”.
Aleksandr Dugin berada dalam posisi aneh karena lebih dikenal di luar negaranya daripada di Rusia.
Tetapi ini bukan kasus seorang tokoh yang tidak diakui di negerinya sendiri tetapi akibat media Barat menggunakannya untuk propaganda dan manajemen narasinya sendiri.
Aleksandr Dugin dijuluki “Otak Putin” dan “Rasputin dari Putin” oleh pers Barat karena pengaruhnya terhadap pandangan dunia Presiden Vladimir Putin dan elit penguasa negara tersebut.
Majalah Foreign Policy memasukkannya ke dalam daftar “Pemikir Global” pada 2014 karena mendalangi ideologi ekspansionis Rusia. Demikian dilansir dari RT.
Namun kenyataannya dia tidak berpengaruh di Kremlin.
Dia bahkan bukan tokoh arus utama di Moskow. Sebaliknya dia menjadi totem bagi juru kampanye ultra nasionalis yang sebagian besar percaya Vladimir Putin terlalu moderat dalam kebijakan luar negerinya.
Dengan demikian Aleksandr Dugin telah menjadi anomali yang menyimpang. Dia terkenal di Barat tetapi menjadi sosok pinggiran di negerinya.
Pembunuhan atas putrinya yang terjadi pada Agustus lalu, Darya Dugina, membuat beberapa orang berspekulasi bahwa ketenaran itu sendiri mungkin menjadi alasan bagi operator Ukraina untuk menjadikannya target.
Darya Dugina, seorang jurnalis berusia 29 tahun dan seorang komentator, terbunuh saat kembali dari festival keluarga di luar Moskow yang dia hadiri bersama ayahnya.
Aleksandr Dugin berencana untuk meninggalkan acara dengan mobil yang sama dengan putrinya. Tetapi pada saat terakhir memutuskan untuk mengambil mobil terpisah.
Dari Penghasut Hingga “Otak Putin”
Dia menjadi populer sebagai penulis konservatif yang produktif pada 1990-an.
Rusia saat itu mengalami krisis ekonomi dan kekosongan ideologis pasca runtuhnya Uni Soviet.
Dikenal dengan retorikanya yang berapi-api dan sikap anti Barat yang menggelora, Aleksandr Dugin membayangkan Rusia sebagai kekaisaran kontinental yang kuat dan terus berkembang yang misinya adalah untuk melayani sebagai benteng melawan penyebaran model liberal Barat di planet ini.
Karyanya Meramalkan Perang di Ukraina
“The Foundation of Geopolitics: The Geopolitical Future of Russia” (Fondasi Geopolitik: Masa Depan Geopolitik Rusia) yang terbit pada 1997 merupakan karyanya yang berpengaruh.
Aleksandr Dugin meramalkan pertumpahan darah di Ukraina dalam karya tersebut.
“Kedaulatan Ukraina adalah faktor negatif bagi geopolitik Rusia yang pada prinsipnya dapat dengan mudah memicu konflik bersenjata,” tulisnya.
Dia berpendapat bahwa sambil mempertahankan tingkat otonomi tertentu, Ukraina harus diintegrasikan ke dalam negara Rusia. Seperti pada zaman Tsar dan Soviet.
Penulis ini dengan penuh semangat mendukung keputusan Moskow untuk menyerap kembali Krimea pasca semenanjung ini dalam referendum memilih meninggalkan Ukraina setelah kudeta 2014 di Kyiv. Dia kemudian masuk daftar hitam Amerika Serikat dan Kanada. Pada tahun 2014, dia meninggalkan Universitas Negeri Moskow, di mana dia memimpin departemen sosiologi hubungan internasional selama lima tahun.
Pejuang Anti Barat
Aleksandr Dugin mendukung operasi militer yang dilancarkan Moskow terhadap negara tetangga pada akhir Februari tahun ini.
Dia berpendapat bahwa Barat yang dipimpin Amerika Serikat telah memicu konflik dengan mendukung nasionalis dan pasukan anti Rusia lainnya di Kyiv sejak kemerdekaan Ukraina pada tahun 1991.
Mereka terus melakukannya dengan mengirimkan senjata ke Ukraina.
“Pertempuran untuk Ukraina dan melawan Rusia adalah ketetapan sejarah dari strategi geopolitik Barat,” tulis Aleksandr Dugin dalam sebuah opini untuk grup media Tsargrad TV pada bulan Maret.
Dia juga berpendapat bahwa perbatasan Ukraina saat ini dibuat secara artifisial ketika Ukraina adalah bagian dari Uni Soviet.
“Tentara Rusia saat ini memerangi negara-negara berdaulat yang memaksakan dunia unipolar. Kita tidak bisa kalah dalam perang ini. Jika tidak, seluruh dunia akan terbakar,” ucap Aleksandr Dugin kepada surat kabar Turki, Turkiye Gazetesi, pada bulan April.
Mengikuti Jejak Ayahnya
Seperti ayahnya, Darya Dugina, mendukung kampanye militer Rusia di Ukraina.
Ukraina dalam gambaran Darya Dugina merupakan sebuah negara yang gagal.
Darya Dugina Muncul di podcast 'Solovyov LIVE' hanya beberapa jam sebelum kematiannya.
Dia menuduh Barat mencoba memaksakan kehendaknya pada orang lain.
“Operasi militer khusus di Ukraina adalah paku terakhir di peti mati hegemoni dunia Barat,” katanya.
Inggris memasukkan Darya Dugina ke daftar hitam pada bulan Agustus sebagai penyumbang disinformasi yang sering dan terkenal terkait dengan Ukraina.
Penasihat Presiden Ukraina Mikhail Podoliak membantah keterlibatan Kyiv dalam pemboman yang menewaskan Darya Dugina.
"Saya ingin menekankan bahwa Ukraina, jelas, tidak ada hubungannya dengan itu," ungkapnya kepada media Ukraina. ***
