Profil Yahya Sinwar, Pimpinan Hamas yang Ditakuti Israel dan Gugur Saat Membela Tanah Air

Sabtu 19 Okt 2024, 09:41 WIB
Yahya Sinwar (Kiri) bersama Ismaeil Haniyeh (Kanan), dua pemimpin Hamas yang meningal dunia mempertahankan negara. (peoplesdispatch.org)

Yahya Sinwar (Kiri) bersama Ismaeil Haniyeh (Kanan), dua pemimpin Hamas yang meningal dunia mempertahankan negara. (peoplesdispatch.org)

POSKOTA.CO.ID – Hamas telah mengonfirmasi bahwa pimpinan mereka, Yahya Sinwar wafat dalam baku tembak dengan tentara Israel di bagian selatan Jalur Gaza, Palestina pada Rabu, 16 Oktober 2024.

Proses kematian Sinwar berbeda dengan pemimpin Hamas lainnya. Sebab operasi yang menewaskannya tidak direncanakan sebelumnya.

Dirinya meninggal dalam pertemuan tak terduga dengan patroli Israel yang saat itu menembaki salah satu gedung di Gaza Selatan dengan tank.

Yahya Sinwar ditunjuk menjadi kepala biro politik Hamas pada awal Agustus lalu. Dia menggantikan Ismail Haniyeh yang menninggal di Teheran, Iran pada 31 Juli 2024.

Profil Yahya Sinwar

Mengutip dari berbagai sumber, berikut ini profil Pemimpin Hamas Yahya Sinwar yang dibunuh oleh tentara Israel:

Yahya Sinwar lahir di kamp pengungsi Khan Younis di selatan Jalur Gaza pada 29 Oktober 1962. Orang tuanya diusir paksa oleh Israel dari rumah mereka di Askhelon pada 1948 selama peristiwa Nakba.

Itu adalah peristiwa menyakitkan di mana 750.000 warga Palestina diusir dari rumah mereka sendiri oleh tentara Israel.

Setelah itu, Sinwar sempat menempuh pendidikan di sekolah menengah khusus laki-laki di Khan Younis. Ia lalu melanjutkan studi di Universitas Islam Gaza dengan mengambil jurusan studi Arab.

Ini menjadi awal ia menyukai politik dan menjadi aktivis. Kemudian pada 1982, Yahya Sinwar pertama kali ditangkap oleh otoritas Israel karena terlibat dalam aktivisme anti-pendudukan.

Pria yang dikenal luas dengan nama Abu Ibrahim ini bergabung dengan Hamas saat Sheikh Ahmad Yassin mendirikan kelompok perlawanan Hamas pada sekitar 1987.

Sinwar kemudian mendirikan Munazzamat al-Jihad w'al-Dawa atau Majd, yang dibentuk untuk memburu dan melenyapkan para kolaborator Palestina dengan Israel. 

Organisasi ini menjadi aparat keamanan pertama Hamas yang baru dibentuk. Pada 1988, Sinwar ditangkap lagi oleh pasukan Israel dan dijatuhi hukuman seumur hidup.

Dirinya dituduh terlibat dalam penangkapan dan pembunuhan dua tentara Israel dan empat tersangka mata-mata Palestina. Dimulailah masa hukumannya selama 23 tahun di penjara Israel.

Selama ditawan, dia belajar bahasa Ibrani, sering membaca surat kabar Israel, dan mendalami politik sekaligus budaya Israel. Dia mengatakan hal itu membantunya untuk lebih memahami musuhnya.

Sinwar juga menulis novel berjudul ‘The Thorn and the Carnation’, yang terinspirasi dari pengalaman hidupnya sendiri saat tumbuh besar di Jalur Gaza.

Akhirnya Yahya Sinwar dibebaskan dari penjara pada 2011 atas kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyetujui kesepakatan yang membebaskan 1.047 tahanan Palestina dengan imbalan Gilad Shalit, seorang tentara Israel yang diculik pada 2006.

Setelah bebas, Sinwar langsung naik pangkat di Hamas. Dirinya terpilih menjadi anggota biro politik dan ditugaskan berkoordinasi dengan Brigade Qassam.

Selain memainkan peran politik di Hamas, dia juga memimpin perlawanan terhadap Israel yang menyerang Gaza selama tujuh pekan pada 2014.

Beberapa bulan setelah perang itu, Amerika Serikat menambahkan Yahya Sinwar ke dalam daftar yang melabelinya sebagai ‘teroris global yang ditunjuk secara khusus’.

Pada 2017, ia terpilih sebagai kepala biro politik Hamas di Gaza. Sinwar bekerja sama dengan Haniyeh untuk mendekatkan Hamas dengan Iran dan sekutu-sekutunya, termasuk Hezbollah di Lebanon. 

Fokus membangun kekuatan militer Hamas, pria dengan julukan ‘Jagal dari Khan Younis’ ini juga memelopori Operasi Pedang Yerusalem.

Ini merupakan nama operasi Hamas sebagai respons atas pengeboman Israel di Jalur Gaza antara 6 dan 21 Mei 2021.

Dia juga dianggap sebagai arsitek Operasi Taufan Al-Aqsa, nama operasi kelompok militan Palestina untuk serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu.

Namun sepanjang perang terbaru di Jalur Gaza, Yahya Sinwar tidak terlihat di depan umum. Dia diyakini berada di terowongan di bawah Jalur Gaza. 

Beberapa tawanan Israel yang kemudian dibebaskan mengatakan bahwa mereka pernah melihat atau berbicara dengan Sinwar saat berada di sana.

Bagi orang Israel, Yahya Sinwar adalah figur yang mengerikan. Namun bagi rayat Palestina, dia adalah pahlawan yang syahid saat berperang merebut kembali tanah air.

Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya di Google News dan jangan lupa ikuti kanal WhatsApp Poskota agar tak ketinggalan update berita setiap hari. 

News Update