POSKOTA.CO.ID - Kondisi miris dialami sekitar 700 siswa di SMAN 20 Kota Bekasi yang harus menumpang saat belajar karena tak punya ruang kelas sendiri.
Topik ini menjadi hangat beberapa hari terakhir dimana ternyata masih ada sekolah yang kesulitan infrastruktur, padahal pemerintah telah menyatakan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Diketahui SMAN 20 Kota Bekasi sudah beberapa tahun menyewa gedung sekolah lain, termasuk salah satunya SMP YPII Bungur untuk digunakan sebagai sarana belajar siswa.
Tak tanggung-tanggung, sekolah harus membayar hingga Rp350 juta per tahun untuk bisa menyewa gedung sekolah.
Dari informasi yang beredar, siswa yang menumpang belajar di gedung sekolah lain ini menggunakan sistem shift.
Pagi hari siswa kelas 12 yang datang ke sekolah untuk belajar, sedangkan untuk waktu siang giliran siswa kelas 10 dan 11 yang bersekolah.
Kondisi ini turut disoroti oleh Gubernur Jawa Barat terpilih, Dedi Mulyadi yang menyebut penyebab masalah ini adalah anggaran yang diberikan untuk Pendidikan Jawa Barat yang tidak efisien.
Baca Juga: Pendidikan Jadi Prioritas, Gedung Baru SMAN 20 Kota Bekasi Cuma Impian?
Dalam unggahan kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Gubernur Jabar itu menyebutkan bahwa anggaran infrastruktur sekolah sangat minim jika dibandingkan anggaran keperluan lainnya yang belum tentu dibutuhkan siswa.
"Ruang kelasnya cuma Rp 60 M, ngebantu untuk teknologi informasi yang belum tentu juga dibutuhkan oleh SD SMP-nya Rp 725 miliar. Anggaran itu tunda, enggak boleh," ujar Dedi Mulyadi, dikutip Poskota pada Jumat, 24 Januari 2025.
"Tiap tahun saya enggak pernah dengar keributan masuk SD, enggak pernah. Keributan masuk SMA, sampai demo ukur jalan di Bogor," sambungnya.
Menyikapi hal ini Dedi Mulyadi sendiri berjanji akan berusaha melakukan pembenahan guna memperbaiki berbagai masalah infrastruktur pendidikan di Jawa Barat, termasuk untuk SMAN 20 Kota Bekasi.
Baca Juga: 6 Tahun Tak Punya Gedung Sekolah, SMAN 20 Kota Bekasi Mesti Sewa Kelas Rp350 Juta Per Tahun
Sementara itu, siswa SMAN 20 Kota Bekasi, Arnold (17) pun turut bercerita pengalamannya harus belajar dengan sistem shift ini.
Dari pernyataannya sebagai kelas 12, sejak masuk ke sekolah selalu menumpang tak pernah merasakan belajar di ruang kelas dan gedung sekolah sendiri.
"Iya saat ini masih menumpang, kita sudah tiga tahun belajar di sini," ujar Arnold.
Arnold juga mengaku tidak nyaman sebenarnya dengan kondisi seperti ini, namun tidak bisa berbuat apapun dan hanya menerimanya.
"Sebenernya enggak nyaman, cuman mau gimana lagi, Kalau kita enggak terlalu percaya (rencana pindah) saya mah jalani aja dah," kata Arnold.
Siswa lainnya, Ferisko (17) juga mengatakan kondisi lainnya tentang sarana prasarana sekolah yang sangat minim.
Bahkan Ferisko menyebut bahwa lapangan dan tempat parkir sekolah sangat tidak memadai. Meski begitu ia berharap ada perbaikan untuk sekolahnya sehingga bisa memiliki gedung sekolah sendiri.
"Enggak ada lab, jadi mau praktik jadinya hanya teori saja gitu, harapannya punya gedung," ucapnya.