DIALOG kakek dan cucu pagi ini menyoal barang yang keras dan lembut. Keras adakalanya dapat dimusnahkan dengan yang lembut. Keras dapat hanyut karena kelembutan.
Sering dikatakan sekeras apapun sebuah sikap akan luluh jika dihadapi dengan kelembutan. Apalagi dalam prosesnya dibarengi dengan kasih sayang, sopan santun dan keramah tamahan.
Cucu: Jadi kalau ada teman marah-marah, nggak boleh ikut marahan kek?
Kakek: Sebaiknya begitu. Biarlah teman kamu meluapkan kemarahannya mungkin ada alasannya. Setelah reda, dekati ajak dialog, tentu tadi dengan kelembutan sebagaimana layaknya kesetiaan seorang teman.
Kakek pun menjelaskan. Jika keras dilawan dengan keras akan patah karena terdapat adu kekuatan, makin terjadi kontra.
Contoh barang yang keras, misalnya gelas. Jika dibenturkan dengan batu, akan pecah. Jika gelas jatuh ke lantai, akan pecah. Tetapi jatuh ke atas kasur, tidak akan pecah karena kasur itu empuk dan lembut.
Begitupun dalam merespons sikap masyarakat. Jika masyarakat keras, misalnya menolak penambangan, penggusuran atau pembongkaran kemudian dihadapi petugas dengan sikap yang keras dengan alasan menjalankan tugas, akan terdapat kontradiksi, maka terjadilah konflik.
Memang dalam menjalankan tugas harus tegas, penegakan hukum juga harus tegas, tetapi bukan berarti keras baik secara fisik maupun dalam penampilan. Boleh jadi secara fisik tidak keras, tetapi penampilan dan perilaku yang dipertontonkan terlihat keras, tidak bersahabat.
Itulah perlunya pendekatan humanis. Itu pula,sepertinya yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ketika mendatangi warga Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo, yang menolak penambangan andesit.
Tercatat dua kali ganjar mendatangi warga Desa Wadas. Pertama, pada 9 Februari 2022, sehari setelah terjadi konflik antara petugas dengan warga desa Wadas yang menolak penambangan.
Yang kedua, Minggu (13/2/2022). Ganjar hadir tanpa pengawalan, apalagi membawa serta pasukan pengamanan. Dia hadir sendiri, tidak berpakaian dinas dengan menempatkan dirinya sebagai Ganjar pribadi, sebagaimana layaknya warga negara biasa, meski tetap melekat di pundaknya sebagai gubernur.
Dia datang dengan meminta izin kepada warga, termasuk keinginan datang lagi untuk menginap di desa Wadas.
Selama pertemuan banyak menggunakan bahasa lokal agar dapat menyatu dengan masyarakat setempat. Dengan kata yang santun, tata krama sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat setempat, seperti berikut:
“Kulo pengen ngrungokke dhewe (saya ingin mendengarkan sendiri secara langsung), tetapi nek mung sepisan iki pasti mboten cukup (tapi kalau hanya sekali ini, pasti tidak cukup). Nek kulo angsal, kulo izin nginep teng ndeso niki angsal mboten (kalau boleh, saya izin menginap di desa ini boleh apa tidak),” tanya Ganjar ke ratusan warga.
“Mangke kulo mriki nggeh, kulo tak nginep mriki kersane saget ngombe banyu Wadas (nanti saya kesini ya, saya menginap di sini supaya bisa minum air Wadas).”
Kehadiran Ganjar sebagai bentuk tanggung jawab sebagai kepala daerah, bukan hanya dalam kata, tetapi perbuatan. Kehendak untuk menginap sebagai bentuk kepedulian negara terhadap rakyatnya untuk berdialog langsung menyelesaikan masalah yang dihadapi warganya.
Melalui pendekatan semacam ini, diharapkan yang awalnya keras menjadi lembut, yang semula kukuh menjadi luluh. Yang pasti, kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat adalah yang utama. Semoga. (jokles)