Reza Indragiri, pakar psikologi forensik. (ist)

Kriminal

Komnas HAM dan Komnas Perempuan Sebut Ada Dugaan PC Alami Pelecehan Seksual, Psikolog Forensik: Keduanya Sama-sama Berspekulasi

Minggu 04 Sep 2022, 11:47 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi (PC) mengaku direndahkan harkat dan martabatnya oleh Brigadir Joshua. Hal itulah yang diduga melatar belakangi adanya peristiwa pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Geng Sambo.

Kemudian, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Komisi Nasional Perempuan kompak membenarkan adanya dugaan pelecehan yang dilakukan oleh mendiang Brigadir J terhadap istri dari petinggi Polri tersebut.

“Terdapat dugaan kuat terjadi peristiwa kekerasan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J kepada Saudari PC di Magelang tanggal 7 Juli 2022,” kata Komisoner Komnas HAM, Beka Ulung, di Kantor Komnas HAM, Kamis (1/9/2022).

Kemudian, Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani juga menyuarakan hal yang sama. Andy mengatakan, kekerasan seksual yang menimpa PC itu terjadi di Magelang, pada 7 Juli 2022.

"Dugaan kekerasan seksual terhadap P di Magelang tanggal 7 Juli 2022, kami menemukan bahwa ada petunjuk-petunjuk awal yang perlu ditindaklanjuti oleh pihak penyidik," tutur Andy, Kamis, (1/9/2022).

Namun, Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel membantah pernyataan Komisi Nasional tersebut. Dia menduga, kekerasan seksual itu tidak dilakukan oleh almarhum Brigadir J. Komnas HAM dan Komnas Perempuan, keduanya punya kesamaan, yakni sama-sama berspekulasi.

"Sebetulnya saya, Komnas HAM dan Komnas Perempuan punya kesamaan. Yakni sama-sama berspekulasi. Bedanya, saya berspekulasi bahwa kejadian kekerasan seksual itu tidak ada. Sementara Komnas berspekulasi bahwa peristiwa itu ada," tutur Reza saat dihubungi, Minggu (4/9/2022).

Menurutnya, pernyataan-pernyatan dari lembaga Komisi Nasional itu hanya akan menguntungkan PC untuk di persidangan nanti.

"Pernyataan Komnas itu jelas menguntungkan PC. Dia sekarang punya bahan untuk menarik simpati publik. Dia juga bisa jadikan pernyataan Komnas sebagai bahan membela diri di persidangan nanti. Termasuk bahkan membela diri dengan harapan bebas murni," jelas Reza.

Reza pun mempertanyakan manfaat Komnas melemparkan pernyataan tersebut ke publik bahwa kekerasan terhadap PC itu benar adanya.

"Nah, dari situ saya pertanyakan manfaat Komnas membuat simpulan bahwa kekerasan terhadap PC itu ada. Dugaan Komnas itu tidak mungkin ditindaklanjuti sebagai kasus hukum," katanya.

Kemudian, Reza mengungkapkan bahwa Indonesia tidak mengenal posthumous trial. Oleh karena itu, mendiang Brigadir J tidak mungkin bisa membela diri atas tuduhan Komnas.

"Begitupun dengan PC. Betapa pun dia mengklaim sebagai korban kekerasan seksual, dan Komnas mengamininya, tetap tidak mungkin dia menerima hak-haknya selaku korban," terang Reza.

Sebagai informasi, Posthumous Trial atau persidangan anumerta adalah persidangan yang diadakan setelah kematian terdakwa.

Pasalnya, kata Reza, UU mengharuskan adanya vonis bersalah terhadap pelaku agar PC nantinya bisa mendapat restitusi dan kompensasi.

"Masalahnya, bagaimana mungkin ada vonis kalau persidangannya saja tidak akan ada," tuturnya.

Menurut Reza pernyataan Komnas yang mengamini Putri Candrawathi itu hanya membuat mendiang Brigadir J justru terabadikan dalam stigma belaka.

"Bahwa ia (Joshua) adalah orang yang sudah diduga kuat oleh Komnas sebagai pelaku kekerasan seksual," ujarnya.

"Dari situlah kita bisa takar dalam tragedi Duren Tiga Berdarah, pernyataan atau simpulan Komnas punya implikasi merugikan sekaligus menyedihkan bagi mendiang Brigadir Y namun menguntungkan PC," tegasnya. (Rika Pangesti)

Tags:
Komnas HAMKomnas PerempuanAda DugaanPutri CandrawathiPCalami pelecehan seksualPsikolog ForensikSama-sama BerspekulasiKomnas HAM dan Komnas Perempuan

Reporter

Administrator

Editor