“Saya kira hal ini juga tidak bisa diabaikan dalam perbaikan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dalam memberi rasa adil. Sehingga penggunaan VAR itu juga harus merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas wasit jadi harus segera diterapkan seiring perbaikan atau peningkatan kualitas wasit," ungkap Dimyati.
"Terlebih PSSI terlebih akan jadi tuan rumah Kejuaraan Dunia U-20,” jelasnya
Sebelumnya, Erick Thohir punya janji khusus untuk wasit Indonesia setelah ia akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum PSSi. Ia berjanji untuk membenahi kualitas dan sejahterakan wasit sebelum bicara soal teknologi seperti Asisten Wasit Video (VAR) di Indonesia.
"Kami akan mendorong perbaikan perwasitan, sistem pertandingan, baru hitung-hitungan VAR," ujar Erick Thohir.
Nominal pemasukan wasit saat ini, lanjut Erick Thohir, masih sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia mencontohkan seorang wasit Liga 2 Rohadi yang mendapatkan bayaran Rp5,5 juta per laga. Dengan pemasukan seperti itu, Erick melanjutkan, dia hanya lima sampai tujuh kali memimpin pertandingan setiap musimnya.
Padahal, idealnya, menurut Erick wasit harus bekerja 12-15 pertandingan per musim. Rohadi pun menyokong hidupnya dengan berjualan kembang tahu.
"Dari sana, dia meraih pendapatan Rp200 ribu per bulan sementara istrinya bekerja sebagai guru PAUD untuk tambahan dengan gajinya Rp900 ribu per tahun. Ayolah kita memberikan empati. Jangan selalu menyalahkan wasit, wasit, wasit," kata Erick
Mantan Presiden klub Inter Milan itu meminta dengan tegas agar semua pihak tidak menjadikan wasit sebagai kambing hitam rusaknya persepakbolaan nasional.
Seluruh jajaran Komite Eksekutif (Exco) PSSI periode 2023-2027, Erick memastikan, akan berkomitmen untuk mengambil keputusan berdasarkan data dan fakta jika ada hal-hal negatif yang terjadi di sepak bola Indonesia. Mereka tidak akan menggunakan jalur kekuasaan untuk menentukan sebuah kebijakan.
"Saya mendorong empati. Kami harus mengambil keputusan dengan hati, bukan kekuasaan. Kami mesti mengambil keputusan berdasarkan data dan fakta, lalu menemukan solusi, bukan dengan menggunakan kekuasaan dan arogansi," tegas Erick.(*)