“MELALUI penguatan potensi lokal selain dapat menjadi tameng resesi global, juga untuk membangun kemandirian. Ini perlu gerakan edukasi bangga terhadap buatan dalam negeri, hasil karya bangsa sendiri.” -Harmoko-
Kita kenal istilah “mitigasi” sebagai upaya mengurangi risiko, dampak buruk atau hal yang tidak diinginkan akibat sebuah peristiwa. Tentu peristiwa yang diprediksi bakal terjadi akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Resesi global, bagian yang perlu dimitigasi agar negeri kita terhindar dari segala risiko, setidaknya menurunkan sekecil mungkin risiko yang bakal dihadapi.
Ancaman resesi global tahun 2023 memang disebut sangat mengerikan, tetapi bukan lantas menarasikan hal yang mengerikan itu menjadi menakutkan, apalagi sampai menakut- nakuti masyarakat.
Para elite yang senantiasa mengumbar pernyataan ekonomi dunia penuh ketidakpastian, sehingga tidak tahu pasti apa yang akan terjadi tahun depan, tidaklah salah, tetapi menjadi tidak bijak, jika semakin menambah kegalauan ekonomi publik.
Dunia memprediksi tahun 2023 akan menjadi gelap sehingga kian sulit menyusun APBN 2023, adalah situasi yang tidak bisa dipungkiri, tetapi sesulit apapun, APBN tetap harus dikaji, diuji dan disahkan.
Jika yang mencuat ke permukaan hanyalah curhatan hati akibat kegelapan, lantas kapan memberi penerangan dan pencerahan hati.
Jika pemimpinnya masih terjebak pada lingkaran kegelapan, lantas bagaimana anak buahnya, rakyatnya, haruskah ikut – ikutan dalam dunia kegelapan.
Bukankah lebih baik membawa keluar dari kegelapan dengan memitigasi risiko dan dampak buruk dari awan gelap. Jika tidak mampu sepenuhnya mengusir awan gelap, setidaknya mencegah dampak buruk dari sisa awan gelap. Inilah perlunya mitigasi resesi secara bijak dan cermat guna membangun optimisme, bukan melemahkan hingga berujung pesimisme.
Kita harus meyakini bisa lolos dari resesi dunia, kalaupun terkena, kecil dampaknya. Sejumlah ekonom juga menyiratkan negeri kita masih aman dari resesi global, mengingat Indonesia kurang terhubung dengan dunia – less connected terhadap apa yang terjadi di dunia. Indonesia, keterkaitannya dengan ekonomi dunia relatif kecil.
Sebut saja saat global financial crisis 2008, saat dunia mengalami resesi dengan pertumbuhan ekonomi minus 1 persen, negeri kita mencapai pertumbuhan hingga 4,6 persen, nomor tiga tertinggi di dunia.
Di sisi lain, ekonomi yang mulai pulih dan tekanan inflasi yang mulai melandai, sebagai bekal lolos dari resesi global tahun depan. Tetapi bahwa situasi semakin berat, adalah fakta yang tidak bisa dihindari, karenanya sedikit saja salah kelola, bisa berdampak lebih buruk, mengingat resesi akan terjadi jika bertemunya instabilitas sosial ekonomi dalam negeri dengan situasi global yang penuh ketidakpastian.
Mitigasi resesi bermaksud mengurangi, menurunkan risiko akibat krisis berikut dampak yang menyertainya, seperti meningkatnya angka kemiskinan, penduduk rentan miskin, angka pengangguran menyusul PHK sektor manufaktur terkait ekspor impor bahkan meningkatnya angka kriminalitas yang berdampak pada stabilitas keamanan.
Peta kerawanan akibat krisis inilah yang kemudian diantisipasi dalam perencanaan, guna mengambil tindakan, mulai pelaksanaan hingga upaya pemulihan, untuk mengurangi risiko sekecil mungkin.
Sejarah telah membuktikan produk lokal yang ditopang oleh UMKM sebagai potensi menghadang krisis global. Potensi lokal inilah yang perlu dikuatkan, didayagunakan dan dikembangkan sebagai tameng resesi global.
Kita memiliki kekayaan sumber daya alam, industri besar hingga kecil dan menengah yang lebih digeser untuk pasar dalam negeri, mengingat ekspor tentu akan berkurang.
Ini menuntut peran pemerintah pusat hingga seluruh daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) guna menguatkan potensi lokal dengan pasar lokal dengan tetap mempertahankan kualitas, kualitas dan kontinuitas.
Ekonomi kreatif lebih berperan bagaimana menggali sumber daya alam lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang diminati. Melalui penguatan potensi lokal selain sebagai tameng resesi global, juga dapat membangun kemandirian. Ini perlu gerakan edukasi bangga buatan dalam negeri seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Bukan sebatas slogan dan retorika melalui upacara atau seremonial belaka, tetapi aksi nyata dengan membeli, memakai dan menggunakan produk sendiri dalam negeri. Mulai dari bumbu dapur hingga tempat tidur. Bukan produk impor hanya karena ingin kesohor, tetapi negeri kita tekor.
Mari kita hidup lebih bermanfaat, mampu memberikan nilai tambah bagi alam sekitar bagaikan filosofi kehidupan ”Urip iku urup” – hidup itu harus memberi manfaat bagi sekitarnya, sekecil apapun manfaat yang diberikan. Setitik api akan menerangi kegelapan alam sekitarnya, ketimbang menyalakan banyak lampu di siang hari. Mari kuatkan potensi lokal guna menghalau resesi global. (Azisoko)