Menangkap Sinyal Kenaikan

Kamis 14 Okt 2021, 09:44 WIB
Menangkap Sinyal Kenaikan. (Kartunis/Sental-Sentil/Poskota.co.id)

Menangkap Sinyal Kenaikan. (Kartunis/Sental-Sentil/Poskota.co.id)

PENAMBAHAN kasus baru Covid-19 sebanyak 1.261 pada 12 Oktober 2021 hendaknya perlu disikapi secara bijak.

Memang terjadi kenaikan dua kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya yang dilaporan 620 kasus, tidak lantas berlebihan menyimpulkan telah terjadi lonjakan kasus.

Meski begitu tidak pula mengabaikan adanya kenaikan kasus tersebut. Sekecil apapun kenaikan kasus perlu diantisipasi, apalagi jika kenaikannya cukup besar dan terjadi secara berturut- turut.

Itulah perlunya kemampuan menangkap sinyal kenaikan, tetapi tidak buru-buru menyimpulkan, tidak pula membiarkan. Yang diperlukan segera melakukan langkah antisipatif, itulah sikap bijak dalam merespons perkembangan kasus Covid-19.

Yah, merespons tren perkembangan  kasus yang tersaji lewat data harian, baik kasus positif, angka kematian, angka kesembuhan dan kasus aktif. Juga data testing dan tracing  guna menyinkronkan sejauh mana tingkat penularan di tengah masyarakat.

Data menyebutkan dalam beberapa pekan terakhir, kasus Covid konsisten mengalami tren penurunan yang cukup tajam. Memauki bulan September 2021,  penambahan  kasus positif sudah di bawah angka 10 ribu. Terus berlanjut hingga di bawah 2 ribu dan beberapa hari lalu sudah di bawah 1.000, sehingga kasus aktif  pun tersisa 21.825. Sebesar itu pula jumlah pasien Covid yang masih dirawat di rumah sakit maupun isolasi mandiri untuk  penyembuhan.

Dengan berkurangnya pasien, menjadikan rumah sakit tidak lagi penuh sesak seperti bulan Juni dan Juli lalu. Namun, diingatkan rumah sakit beserta tenaga medis dan sarananya, tetap siaga.

Loh memangnya ada apa? Jawabnya seperti dilansir para ahli, karena adanya ancaman gelombang ketiga Covid -19. Sering dikatakan gelombang ketiga adalah keniscayaan yang memerlukan perhatian semua pihak.

Menurut para ahli, gelombang ketiga dapat saja terjadi pada akhir tahun. Ini bukan prediksi, bulan pula ramalan, tetapi prakiraan yang berdasarkan kepada pengalaman kejadian sebelum –sebelumnya.

Fakta telah memperlihatkan lonjakan kasus terjadi pada pasca liburan panjang seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru.

Kita tahu,liburan panjang akan terjadi pada akhir tahun bersamaan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru, tak hanya di Indonesia, juga dunia.

Dengan liburan panjang akan terdapat peningkatan mobilitas penduduk dan pergerakan masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya, termasuk ke lokasi wisata yang mulai dibuka menyongsong akhir tahun.

Dampaknya  akan terjadi penumpukan dan kerumunan yang berpotensi menimbulkan penularan virus corona. Apalagi  tidak disertai dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kita tentu tak ingin gelombang ketiga Covid-19 menimpa negara kita. Kita tak berharap kondisi Covid di bulan Mei- Juni dan Juli lalu terulang kembali, pasca libur panjang akhir tahun, di bulan Januari –Februari tahun 2022.

Syaratnya, mari kita  sama – sama mencegahnya secara maksimal, dengan mengurangi mobilitas dan pergerakan untuk berlibur, berkumpul dan berkerumun.

Taat protokol kesehatan, wajib adanya, sekalipun di tengah pelonggaran aktivitas. (Jokles)

News Update