5 Alasan Nasabah Ogah Bayar Utang di Pinjol, AFPI: Fintech yang Disalahkan

Selasa 07 Mei 2024, 12:12 WIB
5 Alasan Nasabah Ogah Bayar Utang di Pinjol, AFPI: Fintech yang Disalahkan (Pinterest)

5 Alasan Nasabah Ogah Bayar Utang di Pinjol, AFPI: Fintech yang Disalahkan (Pinterest)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Ketua umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Entjik S Djafar mengatakan bahwa setidaknya ada 5 alasan mengapa banyak nasabah yang ogah untuk membayar utang pada layanan pinjaman online (pinjol).

Entjik pun juga mengungkapkan kekesalannya karena fintech lending sering disalah artikan bahkan disamakan dengan pinjol.

Dalam pertemuan halal bihalal bersama Adakami, 4 Mei 2024, Ia mengatakan bahwa fintech itu sangat berbeda dengan pinjol. 

Layanan tersebut cenderung ilegal dan tidak berizin. Sedangkan fintech merupakan layanan peer to peer (P2P) lending yang resmi dan mempunyai struktur sesuai kesepakatan.

Ia pun mengungkapan rasa keresahannya jika terdapat sebuah kasus atau tindakan mengenai peminjaman dana berbasi teknologi, fintech dikatakan sebagai penyebabnya.

Tak jarang ada beberapa kasus kriminal yang dilakukan oleh pihak pinjol hingga kasus nasabah yang kehilangan nyawa layanan P2P ini menjadi kambing hitam yang disalahkan.

Ketua AFPI ini juga mengungkapkan 5 alasan nasabah menolak membayar tunggakan utang pada pinjol.

1. Perbedaan makna

Seperi yang sudah dikatakan, pinjol dan fintech merupakan dua layanan yang berbeda. 

Pinjol memiliki penyebutan atau isitilah yang menjurus pada suatu praktik yang cenderung ilegal dan tidak berizin.

Sedangkan fintech dapat terjamin legalitasnya karena sudah di awasi oleh lembaga pengawas keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

2. SOP seusai kesepakatan

Dalam layanannya, fintech memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diberlakukan dan telah disepakati bersama.

Jika salah satu pihak kedapatan melanggar atau bertindak tidak sesuai ketentuan maka bisa dicoret hingga dikeluarkan

3. Bersertifikat resmi

Berbeda dengan layanan pinjol, Entjik mengatakan bahwa seluruh kegiatan yang berada dalam fintech lending sudah dilengkapi sertifikat resmi.

4. Pengelolaan uang yang tidak baik

Dalam mengatur keuangan, masyarakat masih cenderung konsumtif dan kurang baik dalam hal ekonomi.

Mereka cenderung belum dapat membedakan antara kebutuhan mendesak atau tidak. Sehingga membuat tabungan dan keuangan menjadi tidak stabil.

5. Minimnya edukasi nasabah

Hal terakhir yang menyebabkan nasabah tidak membayar adalah kurangnya edukasi mereka terhadap layanan pinjol legal, ilegal maupun fintech.

Entjik mengungkapkan bahwa Indonesia masih dalam tahap pengembangan mengenai teknologi pinjaman berbasis teknologi ini. Sehingga masyarakat harus terus belajar mengenai perbedaannya agar tidak salah langkah dalam menggunakannya.

(Raihan Ali Putra Santoso)

Berita Terkait

News Update