Jokowi Teriak Lagi, di Depan Pimpinan Lembaga Negara, Dia Sebut Subsidi Energi Mencapai Rp502 Triliun

Jumat, 12 Agustus 2022 21:27 WIB

Share
Jokowi Teriak Lagi, di Depan Pimpinan Lembaga Negara, Dia Sebut Subsidi Energi Mencapai Rp502 Triliun
Presiden Joko Widodo saat bertemu pimpinan lembaga negara. (biro pers)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah beberapa kali bicara soal besarnya subsidi energi mencaoai Rp502 tdikiun, angka yang sangat sangat besar.

Kali ini Jokowi teriak lagi, yakni saat di hadapan pimpinan lembaga tinggi negara. 

Jokowi menjelaskan bahwa saat ini Indonesia telah memberikan jumlah subsidi energi yang cukup besar dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), mencapai Rp502 triliun.

"Cari negara yang subsidinya sampai Rp502 triliun karena kita harus menahan harga Pertalite, gas, listrik, termasuk Pertamax, gede sekali. Tapi apakah angka Rp502 triliun ini masih terus kuat bisa kita pertahankan?" tutur Kepala Negara.

Itu disampaikan Presiden saat bertemu pimpinan lembaga negara di Istana Negara, Jakarta, Jumat (12/8/2022). 

Dalam pertemuan itu, hadir Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, Ketua DPD La Nyalla Mattalitti, Ketua BPK Isma Yatun, Ketua MK Anwar Usman, Ketua KY Mukti Fajar Nur Dewata, serta Ketua MA M. Syarifuddin

Presiden pun meminta jajarannya untuk terus waspada apabila APBN tidak lagi kuat untuk memberikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara terus menerus,  sehingga terjadi kenaikan harga di masyarakat. 

Bahkan menurut Presiden, saat ini kenaikan harga BBM sudah terjadi di banyak negara di dunia.

"Ya kalau bisa ya alhamdulillah baik, artinya rakyat tidak terbebani. Tapi kalau memang APBN tidak kuat bagaimana? Kan negara lain harga BBM-nya sudah Rp17 ribu, Rp18 ribu, sudah naik dua kali lipat semuanya. Ya memang harga ekonominya seperti itu," ucap Presiden.

Dalam pertemuan tersebut,  Presiden menyampaikan bahwa pertemuan tersebut juga dibahas tentang krisis global yang sedang terjadi di beberapa negara di dunia, mulai dari krisis pangan, krisis energi, hingga krisis keuangan.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar