Ngunduh Mantu dan Larangan Pakai Batik Parang

Jumat, 9 Desember 2022 07:00 WIB

Share
Ilustrasi. (foto: ist)
Ilustrasi. (foto: ist)

PURA Mangkunegaran sedang berbenah. Para hulubalang tampak sibuk menata diri, siaga di setiap sudut jalan. Para menteri turun ke bawah, mengecek semua persiapan. Demang, Wedana, hingga Tumenggung, juga sibuk mempersiapkan diri menyambut ribuan tamu yang akan datang.

Rupanya, Sang Raja akan punya hajat; ngunduh mantu. Pangeran muda akan mempersunting putri cantik, salah satu finalis ajang kecantikan se-Nusantara.

Itulah sebabnya, pasukan Teliksandi juga dikerahkan. Mereka menyamar menjadi petani, pedagang, petugas kebersihan, warga biasa, siap siaga di setiap sudut. Membuka mata dan telinga lebar-lebar.

Pasukan Teliksandi dalam kewaspadaan tinggi. Sebab, kurang dari sepekan sebelum pesta kawinan, Astana Anyar dibom teroris.

Jangan sampai, pesta yang akan dihadiri 6.000 tamu undangan itu, berubah menjadi malapetaka. Karena itu, setiap tamu yang datang, diperiksa secara super ketat.

Selain pemeriksaan secara ketat, tamu undangan juga wajib pakai batik. Tapi tidak boleh menggunakan batik motif parang maupun lereng. 

Usut punya usut, ternyata larangan mengenakan batik motif parang di lingkungan Keraton ini sudah ada sejak dulu. Memang, aturan tidak tertulis. Namun ditaati secara turun temurun, dari dulu hingga saat ini.

Alasannya, motif batik parang hanya boleh digunakan oleh raja dan putra mahkota. Sehingga meski saat ini motif parang sudah dipakai masyarakat umum, namun aturan larangan penggunaan motif parang selain oleh raja di lingkungan keraton, masih dilaksanakan dengan ketat.

Jangankan warga biasa, kerabat kerajaan pun tidak boleh pakai batik motif parang, saat berada di lingkungan keraton. Tapi kalau di luar lingkungan keraton, ya tidak apa-apa.

Di antara hiruk pikuk petugas menyiapkan pesta perkawinan, tampak pria setengah baya duduk di pos ronda. Tatapan matanya hampa, seperti sedang memikirkan sesuatu. Ada beban yang amat berat.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar