Hadiri Peresmian Ekayana Grha, Mahfud MD Bicara Agama Jadi Penyumbang Nilai-nilai Luhur Budaya Indonesia

Sabtu, 3 Desember 2022 16:03 WIB

Share
Menkopolhukam, Mahfud MD saat memberikan sambutan peresmian Ekayana Grha di Wihara Ekayama Arama di Jakarta Barat, Sabtu (3/12/2022). (ist)
Menkopolhukam, Mahfud MD saat memberikan sambutan peresmian Ekayana Grha di Wihara Ekayama Arama di Jakarta Barat, Sabtu (3/12/2022). (ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Menkopolhukam, Mahfud MD mengingatkan pentingnya agama dalam nilai-nilai luhur budaya yang ada di Indonesia 

Mengingat agama telah menyumbang nilai-nilai budaya luhur yang mampu menyatukan perbedaan di Indonesia.  

Hal tersebut disampaikan Mahfud MD saat meresmikan Bangunan Ekayana Grha yang merupakan bangunan penunjang dari Wihara Ekayama Arama di Duri Kepa, Jakarta Barat, diresmikan, Sabtu (3/12/2022).

Menurutya di seluruh dunia dikatakan bahwa Indonesia itu mempunyai budaya unggul, Budaya baik-baik penuh kelembutan, penuh kesantunan dan penuh kebersamaan dan plural kemanusiaan.

"Budaya itu terus berkembang atas sumbangan-sumbangan agama dan keyakinan serta kepercayaan yang ada di Indonesia. Sehingga sebenarnya sumber kebaikan dan kelembutan yang lahir dari budaya unggul misalnya toleransi dan persaudaraan bagi kemanusiaan sebenernya berkaitan dengan akar budaya dan agama-agama yang tumbuh dan berkembang di Indonesia," ungkap Mahfud MD.  

Sehingga ia mengaku sering mengatakan adalah salah bila seseorang tidak beragama.

Karena kalau seseorang tidak beragama tidak ada toleransi terhadap perbedaan dan tidak pro terhadap kemanusiaan. Namun ada juga seseorang yang beragama melakukan tindak kekerasan dengan alasan membela agamanya itu juga salah.  

"Karena siapapun yang beragama percaya kepada Tuhan. Pasti yakin Tuhan itu maha kuasa. Tuhan siapapun  dan di dalam kekuasaanya itu kalau Tuhan mau manusia itu sama maka bisa. Agamanya sama, suku dan jenisnya sama Tuhan bisa.  
Kalau tidak bisa itu namanya bukan tuhan. Kok manusia berbeda? karena memang Tuhanlah yang menginginkan perbedan-perbedaan  itu dan disitulah kemudian kita bekerjasama membangun bangsa kemudian merefleksi menjadi budaya bersama," imbuhnya.  

Tidak sampai disitu, setelah agama direfleksikan menjadi budaya bersama selanjutnya budaya direfleksikan keadalam kepemimpinan berbangsa dan bernegara.

"Dalam bahasa Jawa itu disebut sebagai hasto broto atau pedoman dalam memimpin berdasar petunjuk-petunjuk alam," tambah Mahfud MD.  

Halaman
Editor: Guruh Nara Persada
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar