KARAWANG, POSKOTA.CO.ID - Diduga ada yang menyerobot tanahnya, Iyok Siti Saadah (55) tak kuasa menahan tangisnya.
Tanahnya sendiri berada di Dusun Krajan 2, Desa Kondangjaya, Kecamatan Timur, Kabupaten Karawang kini dibangun menara BTS (base transceiver station), Senin (29/8/2022).
Dia menangis di depan tanahnya yang sudah berdiri tegak menara BTS. Di lokasi juga dia menyemprot tembok menara itu dengan pilok bertuliskan tanah ini milik Hj Iyok Siti Saadah No AJB 148.
Iyok mengungkapkan, dirinya membeli tanah itu sejak tahun 2002 seluas 130 meter persegi. Proses transaksi jual beli itu juga langsung dengan pemilik, ditemani perantara, dan pihak notaris.
"Belinya waktu 2002 beli kuitansi tapi disaksikan lengkap dari bu Nasih pemilik tanah induk, perantara, notaris, saya juga ditemani orangtua saya dan saudara," katanya, Senin (29/8/2022).
Tak hanya itu pada 2006 AJB (akte jual beli) keluar dengan nomor AJB 148 tahun 2006. Akan tetapi, begitu terkejutnya dia ketika datang ke lokasi tanahnya itu sudah berdiri menara BTS.
"Karena memang ketika itu orangtua saya lagi sakit jadi enggak cek-cek tanahnya. Saat dicek kaget kok bisa ada tower ini," katanya.
Sejak itu, berbagai upaya sudah ditempuh mulai dari melaporkan perkara Pengadilan Negeri Karawang hingga membuat Laporan Polisi ke Polres Karawang pada tahun 2010.
"Di pengadilan hasil putusannya NO dan laporan di Polres Karawang juga belum ada hasilnya," katanya.
Putusan NO adalah Putusan niet ontvankelijke verklaard atau yang biasa disebut sebagai putusan yang menyatakan bahwa gugatan tidak dapat diterima karena mengandung cacat formil.
Sementara itu, Pengacara Iyok, Silvia Soembarto menjelaskan, dia baru ditunjuk menjadi pengacaranya sejak tahun 2021.
"Jadi begini saya berdiri di atas tanah dengan AJB 148 diterbitkan pada tahun 2006 atas nama Hj Iyok Siti Saadah. Tapi setelah beli 3 bulan kemudian dibangunlah menara BTS ini," ungkap dia.
Dia menyebutkan, diduga pemilik menara BTS melakukan perjanjian sewa menyewa dengan warga yang mengaku sebagai pemilik tanah.
"Jadi tetangga sebelah tanah klien kami mengaku ini tanahnya, dengan AJB batas-batasnya yang salah. Sebagai awam hukum ini kebingungan dan sempat melakukan upaya sebelumnya dengan dua pengacara, tapi tidak ada hasilnya," jelas dia.
Dia yang diminta sejak tahun 2021 langsung mempelajari persoalan tersebut. Ditegaskannya, AJB 148 tahun 2006 Hj Iyok Siti Saadah sudah sesuai kebenaran formil dan materilnya.
Karena bicara AJB adalah proses jual beli dilakukan oleh pembeli dan penjualnya ditandatangani dan disaksikan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Lalu juga bahwa batas tanah ditunjuk pembeli dan penjual dan diukur langsung pejabat berwenang.
"Saya juga sudah datangi PPAT nya dan beliau menyatakan bahwa AJB kami otentik," katanya.
Dia menambahkan, pihaknya juga sudah mendatangi Polres Karawang untuk menanyakan laporan polisi yang telah dilakukan sejak tahun 2010. Dari penyidik bakal melakukan tindaklanjut dan mendampinginya pada besok Selasa (30/8/2022) untuk ke BPN Karawang untuk mengajukan pemecahan, pembuatan sertifikat hak milik (SHM).
"Jika diperlukan juga kami akan melakukan gugatan perdata baru. Kita berharap semoga cita-cita bangsa ini untuk keadilan Siti Sadaah dapat dilaksanakan dengan damai, apalagi sesuai intruksi Menteri Agraria dan Tata Ruang Hadi Tjahjanto tentang pemberantasan mafia tanah," tandasnya.
(Aep)