JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Sedikitnya delapan orang, termasuk seorang ibu dan seorang bayi, tewas dalam serangan rudal Rusia di kota Odesa, Ukraina selatan. Serangan yang berlangsung pada hari Sabtu tersebut merupakan serangan besar pertama di Odesa sejak awal April.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengutuk serangan itu dan menyebut Rusia sebagai "pelacur" atas kematian bayi tersebut.
“Di antara mereka yang tewas adalah seorang bayi perempuan berusia tiga bulan. Bagaimana dia mengancam Rusia? Tampaknya membunuh anak-anak hanyalah ide nasional baru dari Federasi Rusia,” katanya kepada wartawan di Kyiv, dikutip dari Al-Jazeera, Ahad (24/4/2022).
Kantor berita UNIAN mengatakan ibu bayi itu, Valeria Glodan, dan neneknya juga tewas dalam serangan tersebut. Zelenskyy mengatakan 18 lainnya terluka dalam serangan hari Sabtu.
Presiden Ukraina mengatakan Rusia telah menembakkan sebagian besar persenjataan misilnya ke Ukraina.
“Tentu saja, mereka masih memiliki rudal yang tersisa. Tentu saja, mereka masih bisa melanjutkan teror rudal terhadap rakyat kita,” katanya.
“Tetapi apa yang telah mereka lakukan adalah argumen yang cukup kuat bagi dunia untuk akhirnya mengakui Rusia sebagai negara sponsor terorisme dan tentara Rusia sebagai organisasi teroris," imbuhnya.
Rusia membantah menargetkan warga sipil dalam “operasi militer khusus” yang dimulai pada 24 Februari. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pihaknya menggunakan rudal presisi tinggi untuk menghancurkan terminal logistik di Odesa yang berisi senjata yang dipasok oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
Itu juga menuduh bahwa layanan khusus Ukraina di Odesa sedang mempersiapkan “provokasi dengan penggunaan zat kimia beracun” yang kemudian dapat disalahkan pada Rusia.
Jenderal Rusia Rustam Minnekayev mengatakan pada hari Jumat bahwa Moskow menginginkan kendali atas seluruh Ukraina selatan, komentar yang dikatakan Ukraina mengindikasikan bahwa Rusia memiliki tujuan yang lebih luas daripada tujuan yang dinyatakan untuk demiliterisasi dan "denazifikasi" negara itu.
Kyiv dan Barat menyebut invasi tersebut sebagai perang agresi yang tidak dapat dibenarkan.(*)