Berharap Sembako Melimpah dengan Harga Murah

Sabtu, 12 Maret 2022 06:00 WIB

Share
Penjual sembako di Pasar Rangkasbitung, Banten. (foto: ilustrasi/poskota/yusuf permana)
Penjual sembako di Pasar Rangkasbitung, Banten. (foto: ilustrasi/poskota/yusuf permana)

MELALUI kolom ini pernah disinggung untuk senantiasa kenaikan harga menjelang bulan Puasa. Diyakini, antisipasi dapat dilakukan mengingat, tren kenaikan harga tidak terjadi menjelang Puasa tahun ini, tetapi acap terjadi setiap tahun.

Kita pun tahu, setiap menjelang puasa, kebutuhan komoditas pangan akan naik, permintaan meningkat, terutama barang yang banyak dibutuhkan masyarakat seperti minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, telur dan masih banyak yang lainnya.

Sudah terpantau dalam beberapa hari ini harga sembako bergerak naik seperti cabai merah, bawang merah, telur. Belum lagi gula pasir pasir dan minyak goreng murah yang masih sulit didapat.

Tentu menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk melindungi warganya dengan menyediakan stok yang melimpah dengan harga murah sehingga masyarakat tidak terganggu dalam menyambut bulan penuh berkah dan maghfirah.

Kenaikan harga pangan, sekecil apapun, akan berefek domino, sehingga membuat masyarakt makin terbebani, lebih-lebih di era pandemi seperti sekarang ini.

Di satu sisi harus menambah anggaran untuk menangkal serangan virus corona dengan varian barunya, ditambah lagi adanya kenaikan harga pangan, pengeluaran menjadi berlipat.

Di sinilah peran pemerintah beserta kementerian dan jajaran terkait mengantipasi sejak dini terhadap kecenderungan kenaikan harga pangan.

Tidak saja pemerintah pusat, pemerintah daerah beserta dinas terkait juga perlu mengantisipasi terhadap sentra-sentra industri pangan menyangkut ketersedian
stok, jalur distribusi dari daerah produsen hingga ke konsumen.

Dalam sejumlah kasus, terjadinya kenaikan harga akibat keterlambatan pasokan
ke konsumen. Penyebabnya cukup beragam. Bisa karena faktor cuaca, masalah transportasi, tak jarang karena stok yang terbatas.

Keterlambatan distibusi yang sering menjadi alasan klasik sehingga stok berkurang, sementara terdapat lonjakan permintaan sehingga mendorong kenaikan harga, mestinya sudah terantispasi sejak awal.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar