"Tadi jug dibantu oleh Kyander musik supaya aksi kita tidak monoton, mereka pakai APD itu sebagai ilustrasi, apakah musisi perlu pakai APD nih untuk cari uang," ungkap Dave
Selain Dave, Hal senada juga dikeluhkan oleh Aab (41), sebagai pedagang cilok. Aab mengemukakan bahwa dirinya ikut aksi tersebut guna dapat menyuarakan aspirasi nya karena, hasil jualan cilok miliknya sangat turun imbas dari PPKM.
"Omset saya turun 50 persen akibat PPKM, gimana mau jualan tapi orangnya gak pada ada, dirumah terus, saya keliling juga sama aja hasilnya," keluh Aab
Rizki merupakan penjual cilok asal Bandung yang telah lima tahun sudah tinggal di Bekasi. Sudah tiga bulan dirumahkan oleh pemilik gerobak cilok.
"Saya dirumahkan sudah tiga bulan bersama tiga orang lainnya sesama penjual cilok, selama pandemi Covid-19 saya juga gak pernah dapat bantuan sosial dari pemerintah," ujar Aab
Kegiatan aksi protes secara teatrikal tersebut berjalan kondusif, Adapaun sang koordinator aksi Dev, bahkan menginisiasi dengan membagikan satu cup es teh bagi para ojek online.
"Iya kami bantu juga lainnya seperti Ojol itu, semampu kami, degan kami bagikan puluhan cup es teh, karena bagi kita, mereka juga merasakan imbas dari kebijakan PPKM ini," tutup Dev
Harapan Dave yang sudah membuka kedai bersama kakaknya sejak awal tahun lalu, untuk para penggiat UMKM baik, kedai cafe, pedagang kecil serta seniman tetap bersemangat dengan kondisi disaat seperti ini.
"Kami sudah berusaha mengikuti regulasi pemerintah atas kebijakan PPKM, semoga pemerintah mendengar, dan untuk penggiat tetap bersemangat dan pandemi segera berlalu,' tutup Dave
Aksi protes tersebut dilakukan cukup singkat, yaitu hanya berlangsung satu jam, sejak pukul 16.30 hingga 17.30 sore. (ihsan fahmi)