Download E-Paper

Semoga Tidak Impor Lagi

Jumat, 23 Oktober 2020 - 05:47
Jokowi saat Kunjungan Kerja di Pabrik Gula di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. (Ist)

SELAIN garam, negeri kita juga masih mengandalkan gula impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Seperti dikatakan Presiden Jokowi,  saat ini kebutuhan komoditas gula di Indonesia mencapai 5,8 juta ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, baru sebanyak 2,1 juta ton yang mampu diproduksi di dalam negeri. Sisanya masih harus mengandalkan impor.

Artinya tanpa gula impor, kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi.

Baca juga: Jokowi Akui Indonesia Masih Ketergantungan Impor Gula

Lantas sampai kapan kita impor gula? Jawaban sederhana sampai kita mampu memproduksi gula sendiri sedikitnya 5,8 juta ton per tahun.

Sebelum kita mampu memproduksi gula dalam negeri sebesar kebutuhan dalam negeri, impor gula masih terus berlanjut.

Impor adalah cara instan. Cara paling mudah dilakukan sebagaimana untuk memenuhi komoditas pangan lainnya seperti beras, kedelai, dan garam.

Baca juga: Jokowi Minta Kepala Daerah Jaga Daya Beli Masyarakat

Impor pangan selama ini menjadi bahan kajian, kalau tidak disebut perdebatan.

Setiap kali kita impor pangan acap menuai kritikan. Tetapi impor komoditas makanan tetap saja dilakukan. Alasannya stok dalam negeri tidak mencukupi.

Tak heran jika impor pangan seperti beras sudah terjadwal jauh hari, setidaknya satu semester sebelumnya.

Ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi jika stok beras dalam negeri menipis akibat gagal panen.

Baca juga: Jokowi Tetap Enggan Keluarkan Perppu Omnibus Law Usai Bertemu Pengurus Muhammadiyah

Kita tahu, beras adalah pangan pokok semua warga. Dalam struktur pengeluaran rumah tangga, beras mencatat angka 24% dari total pengeluaran.

Tak heran jika sedikit harga beras naik, masyarakat menjerit.

Kita berharap panen raya melimpah sehingga cadangan beras dalam negeri mencukupi hingga akhir tahun ini. Bahkan, hingga masa paceklik yang diprediksi akhir tahun ini hingga awal tahun depan.

Jika tidak, kita perlu persiapan ekstra  agar tidak bersandar kepada impor.

Sebab, hampir semua negara, termasuk pengekspor beras saat ini sedang berjibaku melawan Covid -19.

Baca juga: Usai Sowan Presiden Jokowi, Forum Rektor Siap Kaji UU Cita Kerja

Negara eksportir utama beras dunia seperti Vietnam dan Thailand lebih mementingkan kebutuhan dalam negeri. Boleh jadi karena era pandemi menutup keran ekspor. (*)

Latest Comments

  • {{comment.name}} {{comment.created_at}}

    {{ comment.comment }}

Belum ada komentar.

REKOMENDASI



IKLAN BARIS

-->