POSKOTA.CO.ID - Patrick Kluivert berambisi menerapkan filosofi Total Football dalam permainan Timnas Indonesia. Gaya ini terkenal dengan fleksibilitas posisi dan pergerakan dinamis yang memungkinkan pemain berpindah peran sesuai kebutuhan.
Total Football pertama kali dikembangkan oleh Rinus Michels saat menangani Ajax Amsterdam pada akhir 1960-an. Filosofi ini kemudian dibawa ke level internasional ketika Michels melatih Timnas Belanda.
Di Piala Dunia 1974, Belanda menunjukkan dominasi mereka dengan gaya bermain menyerang yang atraktif. Dengan Johan Cruyff sebagai otak permainan, mereka sukses menaklukkan banyak tim besar.
Keunggulan utama dari Total Football adalah penguasaan bola yang dominan dan serangan yang terus-menerus. Operan cepat dan pergerakan tanpa henti membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Timnas Indonesia Usai Dibantai Australia di Babak Kualifikasi Piala Dunia 2026
Sistem ini juga menerapkan tekanan tinggi sejak lini depan untuk merebut bola secepat mungkin. Transisi dari bertahan ke menyerang dilakukan dengan agresivitas dan kecepatan luar biasa.
Namun, Total Football bukan sekadar strategi, tetapi juga menuntut pemain memiliki teknik tinggi, kecerdasan taktik, dan daya tahan fisik yang prima. Tanpa kualitas individu yang mumpuni, sistem ini sulit diterapkan dengan efektif.
Banyak tim modern mengadopsi prinsip Total Football dalam permainan mereka. Barcelona era Pep Guardiola adalah contoh sukses bagaimana filosofi ini berkembang menjadi tiki-taka.
Selain itu, klub seperti Manchester City dan Bayern Munich juga menerapkan elemen-elemen Total Football. Mereka menggabungkan penguasaan bola, pressing ketat, dan pergerakan dinamis untuk mendominasi permainan.
Meskipun memiliki banyak keunggulan, Total Football juga memiliki kelemahan. Jika tidak diterapkan dengan koordinasi yang sempurna, tim yang memainkannya rentan terhadap serangan balik cepat.