Ekonomi Melemah, Pengamat Nilai Dampak Kebijakan Jokowi dan Prabowo

Rabu 02 Apr 2025, 12:44 WIB
Ilustrasi kawasan perkantoran di SCBD, Jakarta. (Dok. Poskota)

Ilustrasi kawasan perkantoran di SCBD, Jakarta. (Dok. Poskota)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat ekonomi politik Universitas Airlangga, Ichsanuddin Noorsy menilai perekonomian Indonesia sedang tidak baik-baik saja pada era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, daya beli masyarakat yang terus menurun juga jumlah pemudik yang ikut turun jumlahnya dibanding tahun sebelumnya mengindikasikan perekonomian Indonesia terus melemah. "Ini akumulasi kebijakan Joko Widodo dan Prabowo Subianto," kata Noorsy, Rabu, 2 April 2025.

Noorsy mengatakan ada tujuh indikator situasi perekonomian di Tanah Air melemah dan pertumbuhannya tertahan melamban. Pertama, menurunnya jumlah kelas menengah hingga 9,7 juta jiwa.

Kedua, adanya deindustrialiasi yang terus menerus terjadi sejak era reformasi. Alhasil, kata dia, kontribusi sektor industri untuk kemajuan ekonomi cenderung kalah dibanding era Orde Baru. "Dampaknya adalah PHK yang terus terjadi sejak 2020," katanya.

Baca Juga: Cara Akses Google Maps Offline Saat Mudik 2025!

"Inflasi rendah yang menunjukkan pemusatan kekuatan ekonomi dan tidak memberi dampak terbukanya lapangan kerja. Hal ini diikuti dengan melemahnya daya beli yang berlangsung secara lamban sejak kesalahan kebijakan ekonomi 2015," katanya.

Kemudian, nilai tukar yang terus menerus melemah sejak rezim BJ Habibie. Pelemahan ini membuktikan fundamental makro ekonomi rapuh dan margin perekonomian nasional dihisap keluar.

Ditambah, kata dia, terjadinya persaingan tidak sehat antara bunga Surat Berharga Negara (SBN) dengan surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (SBI) dan bunga deposito. SBN merupakan instrumen keuangan yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai anggaran negara. Sementara SBI adalah surat berharga yang dikeluarkan BI untuk mengendalikan suplai uang di pasar.

Pada era sekarang ini, ucap Noorsy, sistem perbankan dikatakan sehat ketika tidak memberikan dampak pemerataan. Artinya, ketimpangan akan semakin melebar dan hal ini bisa menjadi bahaya jika pemerintah tak beranjak untuk memperbaiki keadaan perekonomian yang terus anjlok.

Baca Juga: Rencana Jepang Cegah Bencana dan Jatuhnya Korban Jiwa Akibat Gempa Bumi Besar Palung Nankai

"Terakhir, rendahnya Purchasing Manager Index sebagai bukti perekonomian Indonesia tidak prospektif tumbuh menjanjikan. Ini diikuti dengan jatuhnya IHSG," ucap dia.

Berita Terkait

News Update