Asal-usul Ketupat Lebaran, Tradisi Sakral yang Sarat Makna dalam Perayaan Idul Fitri di Indonesia

Rabu 02 Apr 2025, 17:16 WIB
Asal-usul ketupat lebaran. (Sumber: Pixabay/ignartonsbg)

Asal-usul ketupat lebaran. (Sumber: Pixabay/ignartonsbg)

POSKOTA.CO.ID - Bagaimana asal-usul ketupat Lebaran? Ketupat Lebaran selalu menjadi ikon kuliner khas yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda ini selalu hadir di meja makan, menemani sajian lezat seperti opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan aneka lauk khas lainnya.

Namun, di balik kelezatan ketupat, tersimpan sejarah panjang dan makna filosofis yang mendalam.

Bagaimana sebenarnya asal-usul ketupat dan mengapa ia menjadi simbol penting dalam perayaan Lebaran? Yuk, simak kisah lengkapnya!

Melansir dari berbagai sumber, tradisi ketupat di Indonesia berakar dari masa masuknya Islam ke tanah Jawa pada abad ke-15, ketika Kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam.

Baca Juga: Tradisi Unik Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia, dari Grebek Syawal hingga Perang Ketupat

Salah satu Wali Songo yang terkenal dengan metode dakwahnya yang penuh makna simbolis, Sunan Kalijaga, memperkenalkan ketupat sebagai bagian dari tradisi Lebaran.

Pada masa itu, Sunan Kalijaga memanfaatkan tradisi masyarakat setempat yang gemar menganyam daun kelapa muda (janur) untuk menciptakan simbol baru dalam rangka mendekatkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa.

Ketupat kemudian menjadi ikon dalam perayaan Bakda Kupat, yaitu tradisi yang digelar seminggu setelah Idul Fitri, di mana masyarakat membuat ketupat, memasaknya, dan membagikannya kepada tetangga serta sanak saudara sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.

Ketupat tak hanya sekadar makanan khas Lebaran, tetapi juga sarat dengan filosofi yang mendalam.

Dalam bahasa Jawa, kata ketupat berasal dari frasa ku-pat, yang memiliki makna ngaku lepat atau mengakui kesalahan.

Tradisi makan ketupat saat Lebaran menjadi simbol permintaan maaf dan pemaafan antar sesama setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Baca Juga: Hampir Serupa, Ini Perbedaan, Ketupat, Lontong dan Buras

Selain itu, Sunan Kalijaga juga merumuskan konsep Laku Papat atau empat laku hidup yang terkandung dalam filosofi ketupat, yaitu:

  • Lebaran: Melambangkan terbukanya pintu maaf dan kebebasan dari dosa.
  • Luberan: Melambangkan limpahan berkah yang harus dibagikan kepada sesama.
  • Leburan: Melambangkan saling memaafkan hingga semua kesalahan luluh dan lebur.
  • Laburan: Melambangkan kesucian hati, di mana manusia kembali bersih seperti kain putih setelah melewati bulan Ramadhan.

Rumitnya anyaman ketupat juga menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia yang penuh dengan liku-liku dan kesalahan.

Sementara itu, beras putih di dalamnya melambangkan kesucian hati setelah memaafkan dan dimaafkan.

Ketupat dalam Tradisi Lebaran di Berbagai Daerah

Tak hanya di Jawa, tradisi ketupat juga merambah ke berbagai daerah di Indonesia dengan cara penyajian yang beragam.

Baca Juga: Filosofi Ketupat dan Opor Ayam Lebaran Idul Fitri, Ternyata Bukan Sebatas Hidangan Biasa

Di Betawi, ketupat biasanya disajikan dengan sayur godog atau semur daging.

Di Sumatra, ketupat kerap disantap bersama gulai atau rendang. Sementara di daerah pesisir, ketupat sering dinikmati dengan ikan bakar dan sambal terasi.

Selain Indonesia, negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura juga mengenal ketupat sebagai bagian dari tradisi perayaan Idul Fitri.

Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan budaya di kawasan Asia Tenggara dalam merayakan momen kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.

Pembuatan ketupat sendiri membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Proses dimulai dengan menganyam janur menjadi kantong berbentuk segi empat, lalu diisi dengan beras yang telah dicuci bersih hingga setengah bagian.

Setelah itu, ketupat direbus selama beberapa jam hingga beras matang sempurna dan mengisi seluruh ruang dalam anyaman.

Proses ini juga memiliki makna simbolis, janur yang digunakan melambangkan kesucian niat, sedangkan proses perebusan melambangkan ujian hidup yang harus dilalui agar manusia menjadi pribadi yang lebih baik.

Di beberapa daerah, ada tradisi khusus yang disebut Lebaran Ketupat, yang biasanya dirayakan seminggu setelah Idul Fitri. Tradisi ini menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Ketupat yang telah dimasak dibagikan kepada keluarga, tetangga, hingga kerabat, sebagai simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan.

Selain itu, Lebaran Ketupat juga menjadi wujud apresiasi bagi umat Muslim yang menjalankan puasa sunah Syawal setelah Ramadhan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya kebersamaan, kasih sayang, dan saling memaafkan.

Hingga saat ini, ketupat tetap menjadi bagian penting dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Tradisi ini terus dilestarikan, menjadi simbol kekayaan budaya sekaligus pengingat akan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam Islam, seperti kebersamaan, kesabaran, dan saling memaafkan.

Jadi, saat Anda menyantap ketupat di hari Lebaran, ingatlah bahwa di balik hidangan sederhana ini tersimpan filosofi mendalam tentang asal-usul ketupat yang mengajarkan kita tentang makna kehidupan dan pentingnya menjaga tali silaturahmi.

Berita Terkait

News Update