"Ya mudah-mudahan aja ada kekuatan untuk menahan tanah tebing ini agar tidak mudah longsor lagi. Sekarang kondisi jalan tidak terlalu curam lagi karena sebagian besar sudah tertutup limbah kelapa muda yang dibuang ke sini (lokasi longsor-red)," ujarnya.
Namun, ia dan warga lainnya berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi jalan longsor di wilayahnya tersebut, supaya bisa segera ditangani agar warga maupun pengendara tidak dihantui rasa takut atas kondisi jalan saat ini.
Karena setelah longsor, ada warga lain yang mengorbankan sawah produktifnya untuk dijadikan perlintasan sementara, sehingga sawah warga tersebut saat ini beralih fungsi menjadi akses jalan.
"Harusnya pemerintah bisa melihat bagaimana pengorbanan warga agar jalur tersebut tetap bisa dilintasi. Mereka rela berkorban dan kehilangan sawah untuk kepentingan umum, tapi sudah setahun ini jalan longsor belum ada tanda-tanda akan ditangani pemerintah," katanya.
Warga lainnya, Lijar mengaku, saat momen arus mudik dan libur lebaran ini, pengendara yang melintas di jalan tersebut harus ekstra hati-hati, karena jalan sementara yang dibuat warga di lokasi longsor tersebut kecil jadi khawatir pengendara yang tidak tahu dengan kondisi jalan terperosok ke jurang longsor.
"Di lokasi juga ada beberapa warga yang mengatur lalulintas kendaraan yang melintas di jalan itu, karena dengan banyaknya kendaraan yang melintas di sini khawatir terjadi kecelakaan," ucap dia.
Ia dan warga lainnya berharap, jalan longsor di wilayahnya dapat segera dibangun oleh pemerintah, karena jalan tersebut merupakan akses utama bagi warga di empat desa dari dua kecamatan di Pandeglang.
"Kami ingin jalan longsor ini cepat ditangani pemerintah, supaya aktivitas lalulintas kendaraan lancar dan warga tidak dihantui rasa takut saat melintas di jalan ini," harapnya.