Sejarah dan Makna Mudik Lebaran di Indonesia

Selasa 01 Apr 2025, 21:46 WIB
Ribuan pemudik memadati terminal bus saat musim mudik Lebaran, bersiap untuk kembali ke kampung halaman. Deretan bus antar kota terlihat berjejer, siap mengantarkan mereka ke tujuan masing-masing. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Ribuan pemudik memadati terminal bus saat musim mudik Lebaran, bersiap untuk kembali ke kampung halaman. Deretan bus antar kota terlihat berjejer, siap mengantarkan mereka ke tujuan masing-masing. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

POSKOTA.CO.ID - Mudik Lebaran telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Setiap tahun, saat bulan Ramadhan berakhir dan Idul Fitri tiba, jutaan orang bergegas pulang ke kampung halaman untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga.

Tradisi ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga mencerminkan eratnya ikatan kekeluargaan dan budaya gotong royong yang telah diwariskan turun-temurun.

Sejarah Tradisi Mudik di Indonesia

Para pemudik bersiap menaiki bus dalam program Mudik Gratis dengan latar belakang Monumen Nasional (Monas). Mereka membawa barang bawaan dan bersiap untuk perjalanan menuju kampung halaman, mencerminkan tradisi tahunan mudik menjelang Hari Raya. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Mudik bukanlah tradisi baru. Mengutip informasi dari kanal YouTube Frog2Crowlr Production, sejarah mudik dapat ditelusuri sejak zaman penjajahan Belanda pada abad ke-19.

Pada masa itu, mayoritas masyarakat Indonesia tinggal di desa dan bekerja sebagai petani atau nelayan.

Ketika Idul Fitri tiba, mereka merasa perlu untuk pulang ke kampung halaman guna merayakan hari raya bersama keluarga.

Namun, perjalanan mudik saat itu tidaklah mudah karena terbatasnya transportasi. Banyak orang harus berjalan kaki, naik kereta api, atau menggunakan kapal laut jika kampung halaman mereka berada di luar pulau.

Baca Juga: Daftar Kontak Penting untuk Mudik Lebaran 2025, Segera Simpan dan Siapkan!

Setelah Indonesia merdeka, jumlah perantau yang bekerja di kota-kota besar semakin meningkat, terutama pada era 1970-an hingga 1980-an.

Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta menjadi tujuan utama urbanisasi. Seiring meningkatnya jumlah pemudik, pemerintah mulai membangun infrastruktur pendukung seperti jalan raya, jalur kereta api, dan berbagai fasilitas transportasi lainnya.

Bahkan, program mudik bersama mulai diperkenalkan untuk mengatur arus perjalanan agar lebih tertib dan aman.

Perkembangan Mudik di Era Modern

Sejumlah pemudik bersiap menaiki bus dalam program Mudik Gratis saat senja. Dengan membawa barang bawaan, mereka tampak bersemangat untuk pulang ke kampung halaman. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Berita Terkait

News Update