Tak hanya itu, tradisi mudik juga diperkirakan telah ada sejak masa kerajaan Islam. Para santri yang menimba ilmu di pesantren akan pulang ke kampung halaman mereka setelah Ramadan untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga.
Hingga kini, tradisi ini masih lestari dan bahkan menjadi salah satu momen paling dinanti menjelang Lebaran.
Ketika Indonesia berada di bawah penjajahan, perayaan Lebaran tetap berlangsung meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Baca Juga: Kumpulan Twibbon Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Desain Dibaluti Nuansa Lebaran Penuh Damai
Pemerintah kolonial Belanda awalnya tidak terlalu memperhatikan hari raya umat Islam. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah pemeluk Islam, mereka akhirnya mengakui Idul Fitri sebagai hari libur bagi pekerja pribumi di beberapa daerah.
Lebaran juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Di masa-masa awal kemerdekaan, momen ini menjadi ajang bagi para pejuang untuk bertukar informasi dan menyusun strategi melawan penjajah.
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Lebaran semakin diakui sebagai hari besar nasional.
Pada tahun 1946, pemerintah resmi menetapkan Idul Fitri sebagai hari libur nasional, memperkuat posisinya sebagai salah satu perayaan terpenting di Indonesia.
Lebaran di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, Lebaran semakin meriah dengan berbagai tradisi yang berkembang.
Takbiran keliling, halal bihalal, dan pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini.
Tradisi halal bihalal sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Soekarno dan tokoh Islam KH Wahab Hasbullah untuk mempererat persatuan para pemimpin politik setelah kemerdekaan.
Kini, tradisi tersebut meluas ke berbagai lingkungan, baik keluarga, kantor, maupun instansi pemerintah.