Sungkeman Saat Idulfitri, Bagaimana Tradisi Ini Bermula di Indonesia? Simak Informasinya

Minggu 30 Mar 2025, 22:30 WIB
Simak bagaimana tradisi sungkem saat Idulfitri dimulai. (Sumber: Pinterest)

Simak bagaimana tradisi sungkem saat Idulfitri dimulai. (Sumber: Pinterest)

POSKOTA.CO.ID - Idulfitri tak hanya identik dengan hidangan lezat atau baju baru. Bagi masyarakat Jawa, momen ini menjadi waktu yang sakral untuk mengungkapkan rasa syukur dan memohon maaf melalui tradisi sungkeman.

Ritual ini bukan sekadar adat, tapi juga sarana memperkuat ikatan antaranggota keluarga.

Bagaimana sejarah dan maknanya? Pastikan untuk simak artikel ini hingga usai agar dapat informasi secara lengkap!

Baca Juga: Bukan Ajang Pamer, Simak 3 Tips Etika saat Hari Raya Idulfitri atau Lebaran

Apa Itu Sungkeman?

Sungkeman berasal dari kata Jawa sungkemo yang berarti "menunduk". Tradisi ini dilakukan dengan cara anak atau anggota keluarga yang lebih muda bersimpuh di hadapan orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua.

Mereka kemudian mencium tangan atau lutut sambil memohon maaf atas kesalahan selama setahun.

Bagi orang Jawa, sungkeman adalah bentuk penghormatan tertinggi sekaligus pengakuan bahwa manusia tak luput dari khilaf.

Setelah solat Id, sungkeman telah menjadi tradisi di Indonesia bahkan bagi keluarga yang bukan dari Suku Jawa. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

Asal-Usul Sungkeman dalam Budaya Jawa

Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan dipengaruhi oleh nilai-nilai kejawen yang mengedepankan keselarasan hidup.

Dalam budaya Jawa, orang tua dianggap sebagai sosok yang wajib dihormati karena telah membesarkan dan memberikan kasih sayang.

Sungkeman juga berkaitan dengan filosofi "nrimo" (menerima dengan ikhlas) dan "ngajeni" (menghargai), yang menjadi pondasi hubungan keluarga.

Baca Juga: 40+ Ucapan Selamat Hari Raya Idulfitri 2025, Sebarkan Kebahagiaan kepada Orang Tersayang

Prosesi Sungkeman: Dari Niat hingga Pelaksanaan

Sungkeman umumnya dilakukan setelah salat Idulfitri. Anak-anak berkumpul di ruang keluarga, lalu secara bergantian mendatangi orang tua, kakek, nenek, atau paman dan bibi.

Mereka duduk bersimpuh sambil meminita maaf atas segala kesalahan. Orang tua kemudian membalas dengan memeluk atau mengusap kepala sambil memberikan doa.

Yang menarik, tradisi ini tidak hanya terjadi di rumah. Banyak keluarga Jawa yang tetap melakukannya meski sedang merantau, misalnya melalui panggilan video.

Hal ini menunjukkan bahwa esensi sungkeman tetap hidup meski jarak memisahkan.

Di tengah gaya hidup yang serba cepat, sungkeman tetap bertahan karena nilai-nilainya universal. Bahkan, banyak keluarga non-Jawa yang mulai mengadopsi tradisi ini.

Misalnya, di beberapa daerah Sumatera atau Kalimantan, sungkeman dilakukan dengan cara berjabat tangan sambil menunduk.

Tantangan terbesarnya adalah generasi muda yang kadang menganggap sungkeman kuno.

Namun, jika dipahami maknanya, ritual ini justru bisa menjadi sarana edukasi moral tanpa terkesan menggurui.

Berita Terkait

News Update