Pembangunan jalan ini melibatkan tiga RT dari tiga kampung berbeda. Mereka bekerja siang dan malam, bergotong royong mencampur semen, mengangkut batu, dan menuangkan beton ke jalur yang telah disiapkan. Dengan alat seadanya dan semangat yang besar, warga menyelesaikan pembangunan jalan lebih cepat dari perkiraan.
Keputusan membangun jalan secara swadaya bukan tanpa alasan. Menurut Ayok, warga sudah terlalu lama menunggu perhatian dari pemerintah desa.
Bertahun-tahun kondisi jalan semakin buruk, namun tak ada tanda-tanda akan ada perbaikan. Setiap musim hujan, genangan air dan lumpur menjadi pemandangan sehari-hari.
Banyak warga yang terjatuh saat melintas, terutama pengendara motor yang harus melewati jalan berlubang dengan penuh kehati-hatian.
Sanimah, salah seorang warga yang turut aktif dalam proses iuran dana, awalnya berharap ada bantuan dari pemerintah desa.
Dia bahkan sempat menginformasikan proyek swadaya ini kepada Sekretaris Desa (Sekdes) Citeras. Namun, harapan itu sirna begitu melihat balasan yang diberikan, sekadar stiker jempol “mantap”.
"Saya yang keliling iuran dana, dan kebetulan saya juga kader Posyandu di kampung sini. Kirain bakal dapat bantuan dari desa, malah cuma dapat stiker jempol mantap doang," katanya dengan nada kecewa.
Meski demikian, warga tak menyerah. Dengan atau tanpa bantuan pemerintah, mereka tetap bergotong royong menyelesaikan pembangunan jalan tersebut.
Bagi mereka, kepuasan terbesar adalah melihat hasil kerja keras sendiri, tanpa harus menunggu kepedulian yang belum tentu datang.
Gotong royong ini bukan hanya sekadar membangun jalan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.
Para pemuda, orang tua, hingga ibu-ibu turut berpartisipasi, entah dengan menyumbang tenaga, uang, atau sekadar menyediakan makanan dan minuman bagi para pekerja. Setiap sore, setelah seharian bekerja, mereka berkumpul, berbincang, dan menikmati hasil kerja keras bersama.
Tak hanya membangun infrastruktur, warga juga telah membangun solidaritas dan kebanggaan yang akan terus mengakar di kampung mereka.