"Biasanya setelah disiram pewangi, baunya hilang sebentar, tapi dalam satu jam sudah tercium lagi," ujarnya.
Menurut Ahmad, polusi udara dari RDF ini bahkan terasa hingga ke wilayah Kota Bekasi dan Jakarta Timur.
Senada dengan itu, Misria, 37 tahun, istri Ketua RT 01 RW 09 Kampung Karang Tengah, menyebut bau menyengat biasanya muncul saat Magrib dan sore hari. "Baunya seperti sampah yang sudah berhari-hari membusuk," keluhnya.
Misria berharap lingkungan mereka bisa kembali memiliki udara bersih seperti sebelum RDF beroperasi.
Tak hanya mengganggu pernapasan, polusi udara dari RDF juga menyebabkan anak-anak terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Pauline, 46 tahun, warga Perumahan JGC, mengungkapkan, di cluster perumahannya, 13 anak mengalami ISPA akibat asap RDF.
"Anak-anak yang usianya antara 1 hingga 12 tahun terkena ISPA. Penyebabnya karena menghirup polusi udara dari asap RDF Rorotan," ujar Pauline saat ditemui di rumahnya, Selasa (25/3).
Pauline sendiri adalah ibu dari Luke, 12 tahun, yang juga menjadi korban ISPA akibat asap RDF. Dia menyayangkan keberadaan RDF yang dibangun di dekat pemukiman warga karena dampaknya sangat buruk bagi kesehatan.
Menurut dia, anak-anak di perumahannya sering mengalami batuk-batuk setelah bermain di taman pada sore hari, saat bau menyengat mulai tercium.
"Awalnya Luke batuk ringan, tapi lama-lama makin parah. Puncaknya, pada 1 Maret, dia menggigil di malam hari, lalu saya bawa ke dokter di RS Eka Hospital. Dokter bilang ini batuk berkepanjangan akibat polusi udara," paparnya.
Luke akhirnya harus menjalani pengobatan dengan antibiotik dan obat pengencer dahak hingga sembuh. Namun, menurut Pauline, jika bau dari RDF kembali tercium, anaknya langsung kembali batuk-batuk.
"Sekarang kalau bau muncul, saya larang dia keluar rumah. Anak-anak di sini sudah jarang main di taman karena polusi udara," katanya.