Komitmen Nasional

Senin, 26 September 2022 06:00 WIB

Share

“STOP upaya dan beragam rekayasa yang mengarah kepada pembohongan publik dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.” - Harmoko
 
Masyarakat sering terkesima menyaksikan komentar dan pernyataan sejumlah elite politik, yang kadang tanpa sadar dapat membawa kepada situasi semakin rumit.

Tidak jarang pernyataan yang dilemparkan lebih diwarnai dengan ego kelompoknya, partainya dalam menyikapi situasi, ketimbang menonjolkan komitmennya membangun bangsa dan negara.

Situasi seperti ini dapat membawa perbedaan yang semakin tajam, lebih-lebih jika sudah menyinggung ranah pribadi, privacy dan histori kepemimpinan nasional.

Ada kecenderungan membandingkan masa lalu dan sekarang. Ini sah-sah saja sebagai bagian dari evaluasi, bagaimana kemajuan yang dicapai pemerintah yang ada sekarang dengan yang dulu. Tujuannya tentu memberikan informasi kepada publik tentang keberhasilan dan kekurangan masa lalu dan sekarang.

Bagaimana pencapaian pemerintahan yang sekarang, itulah yang hendaknya dievaluasi secara bijak, kemudian meresponnya dengan sikap penuh legowo.

Menekankan pada evaluasi masa lalu sepertinya bukan hal yang tepat, boleh jadi kontekstual, tetapi sangat tidak aktual. Masa lalu telah kita tinggalkan dengan memasuki periode yang sekarang, ini yang nyata di depan kita.

Periode sekarang adalah melanjutkan masa lalu guna memperbaiki kekurangan, melanjutkan yang baik, menciptakan hal baru yang lebih baik lagi demi kemajuan bangsa dan negara ini.

Dengan terus menerus mempertentangkan masa lalu dan sekarang, membelah dukungan dengan semakin mengkristalkan kubu yang bersimpang jalan, pro dan kontra, tak ubahnya mendidik masyarakat menjaga jarak komunikasi sosialnya.

Merespons setiap kritikan dengan senantiasa membandingkan masa lalu lebih buruk, bukanlah sebuah penyelesaian, tetapi mengesankan alergi terhadap kritik perbaikan. Stagnan saja, pertanda belum ada progress, apalagi kemunduran.

Beda tafsir soal keberhasilan dan prestasi pemerintahan sekarang, biarlah menjadi catatan tersendiri. Rakyat tentu yang lebih bisa merasakan, ketimbang penilaian.

Halaman
Berita Terkait
2 bulan yang lalu
2 bulan yang lalu
2 bulan yang lalu
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar