DEDI, 24, memang terlalu pede jadi orang. Saat umur 20 tahun sudah berani kawin. Giliran punya 2 anak, ter-PHK gara-gara terdampak Corona. Pusing ngempani anak bini, bakat salesmannya pun ditunjukkan, Atun, 23, istrinya dijual kepada sejumlah lelaki hidung belang. Polsek Asemrowo Surabaya segera menangkapnya.
Lelaki usia 20 tahunan sebetulnya belum dewasa untuk mengemban tugas sebagai kepala keluarga. Jiwanya masih labil, belum cakap mengatasi badai rumahtangga yang menerpanya.
Tapi di era gombalisasi ini semakin banyak lelaki muda kencing saja belum lempeng sudah harus jadi Kepala Keluarga, gara-gara kecelakaan ranjang. Jika para besan orang mampu, ketika anak-anaknya kekurangan akan segera memberikan subsidi. Lha kalau sama-sama pas-pasannya?
Dedi warga Asemrowo Surabaya, termasuk lelaki yang terlalu pede menjalani kehidupan. Baru tamat SMA sudah berani pacaran, dan bahkan berani pula makan “woh kuldi” alias menghamili doi sebelum nikah.
Terpaksalah keduanya segera dinikahkan, meski tak ada persiapan sama sekali. Artinya tempat tinggal belum ada, pekerjaan juga belum punya.
Mengemban tugas sebagai Kepala Keluarga secara dadakan, Dedi kemudian diterima kerja di pabrik. Sampai anak tambah lagi, dia masih bertahan sebagai anak buahnya Said Ikbal (baca: buruh).
Tapi tiba-tiba Corona menerpa Indonesia, sehingga perusahaan tempat Dedi bekerja tutup pula. Ada sih pesangon ala kadarnya, tapi hanya bertahan untuk mengasapi dapur 3 bulan.
Sejak itu Dedi bekerja serabutan, ngobyek ini ngobyek itu, tapi hasilnya tak menentu. Mau ngamen di jalanan seperti Didi Kempot, yang kemudian sukses jadi artis papan atas, dia kurang pede. Kata teman-teman, dirinya sama sekali tak berbakat jadi penyanyi, lha wong kentut saja vales.
Padahal anggaran keluarga sudah tak bisa ditunda-tunda; anak pada nangis kelaparan, rumah kontrakan hampir habis. Benar-benar Dedi pusing tujuh keliling. Dalam tekanan ekonomi yang demikian hebat itu, mendadak dia punya ide “cemerlang” yang direkomendasikan oleh setan. Apa itu?
Dedi dulu pernah jadi tenaga penjual saat bekerja di pabrik. Nah, pengalaman ini akan dicobanya lagi dengan cara menjual.......istri sendiri. Awalnya Atun terkaget-kaget atas ide gila suaminya itu.
Tapi karena dalam kondisi kepepet dan anak-anak kelaparan, terpaksa bersedia. Lalau bagaimana caranya agar bonggol-bonggol itu datang sehingga menghasilkan benggol?
Dedi pun menggunakan aplikasi online. Istrinya yang lumayan cantik dan seksi dipasang dengan gambar yang seronok dan menggoda selera. Ternyata para lelaki hidung belang pun berdatangan. Tarifnya berkisar antara Rp 250.000,- hingga Rp 500.000,- Itu tanpa PPN dan hari besar/Minggu libur.
Sudah puluhan lelaki hidung belang mondar-mandir ke rumah kontrakan Dedi. Hasilnya separo untuk mencukupi kebutuhan keluarga, separonya lagi dikantongi Dedi untuk kegiatan pribadinya termasuk ACT yang di sini berarti: Aku Cinta Tembakau alias merokok.
“Uang lendir enak juga kan?” kata setan seakan meledek Dedi.
Sudah berjalan dua bulan bisnis esek-esek online Dedi. Lama-lama warga curiga, kok banyak amat lelaki mondar mandir ke rumah Dedi. Ada yang masih muda, tapi ada pula golongan anggur kolesom alias kakek-kakek, mungkin sekedar untuk golek kringet biar sehat dan tetap enerjik.
“Jangan-jangan ada praktek pelacuran di sini.” Batin warga.
Kecurigaan itu kemudian dilaporkan ke Polsek Asemrowo. Dengan cara menyamar, akhirnya terkuak sudah bisnis kotor Dedi dibantu Atun istrinya. Keduanya digelandang ke Polsek termasuk barang bukti berupa uang tunai hasil transaksi dan pakaian dalamAtun.
Dalam pemeriksaan suami istri ini mengaku terpaksa mengembangkan bisnis mesum itu karena kesulitan ekonomi sejak terdampak Corona.
Tapi meski punya bakat jadi salesmen, istri jangan pula dijual dong ah! (GTS)