Muda-mudi Gelar Pesta Bikini Hingga Miras, Sosiolog: Usia Muda Penuh Gejolak Perlu Sosok Panutan Beri Contoh Positif

Senin 06 Jun 2022, 09:29 WIB
Sosiolog Unika Atma Jaya Jakarta, Hubertus Ubur. (ist)

Sosiolog Unika Atma Jaya Jakarta, Hubertus Ubur. (ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Tim gabungan dari Polres Metro Depok bersama Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, menggerebek pesta bikini dan minuman keras (miras) yang digelar oleh para muda-mudi di sebuah kawasan perumahan elit di bilangan Sukmajaya, Kota Depok pada Minggu (5/6/2022) dini hari tadi.

Dalam penggerebekan tersebut, aparat Kepolisian berhasil menggelandang sejumlah muda-mudi ke Polda Metro Jaya, menyita sejumlah botol minuman keras, serta menemukan 10 kotak alat kontrasepsi di lokasi.

Namun dikala dilakukan tes urine untuk mengetahui adanya indikasi penyalahgunaan narkotika, Kepolisian sama sekali tidak menemukan adanya indikasi atau pun barang bukti dari penyalahgunaan barang haram tersebut.

Adanya gelaran pesta bikini, miras, dan temuan alat kontrasepsi di lokasi penggerebekan pun menyita perhatian seorang Sosiolog dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, yakni Hubertus Ubur.

Menurut dia, apa yang dilakukan oleh para muda-mudi tersebut dapat terjadi karena pada dasarnya, seseorang di usia muda pasti akan mengalami masa yang penuh gejolak akan hal-hal yang baru, tak peduli meski itu harus melanggar norma sekali pun.

"Usia muda itu usia penuh gejolak. Norma yang kuat dihidupi adalah yang bersifat hedonistik. Norma kedua adalah solidaritas, tidak harus dalam arti positif atau produktif. Maka, tidak jarang norma kehidupan sosial dan agama cenderung tidak disukai, bahkan dilanggar," kata Hubertus saat dihubungi, Minggu (5/6/2022).

Dalam hal ini pula, dia berujar, bahwa tidak jarang muncul rasa bangga pada seseorang tatkala dirinya melakukan suatu ketidakpatuhan atau pelanggaran.

Sebab menurutnya, saat ini para muda-mudi yang memperlihatkan kepatuhan, hal itu biasanya dilakukan tanpa adanya rasa tulus dari hati.

"Kalau toh, mereka memperlihatkan kepatuhan, hal itu dilakukan dengan terpaksa atau ada rasa takut kepada orang tua atau pihak berwewenang, entah itu pemerintah atau tokoh agama," ujar dia.

Hubertus menuturkan, perilaku muda-mudi yang saat ini cenderung menyimpang dari norma, sebetulnya bisa dikembalikan kepada jalan yang sesuai dengan cara-cara kecil yang sebetulnya tidak banyak disadari.

"Apa solusinya? Pertama, penyadaran melalui berbagai sarana pendidikan seperti sekolah, agama, kelompok kepemudaan seperti karang taruna, remaja mesjid, atau yang lainnya," tutur Hubertus.


Berita Terkait


News Update