Warning! Sutiyoso Wanti-wanti Indonesia Jangan Bernasib Seperti Singapura, Dikuasai China

Minggu, 22 Mei 2022 06:37 WIB

Share
Warning! Sutiyoso Wanti-wanti Indonesia Jangan Bernasib Seperti Singapura, Dikuasai China
Sutiyoso. (foto: ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mewanti-wanti Indonesia agar jangan bernasib seperti negara tetangga Singapura yang kini dikuasai oleh orang keturunan China atau Tiongkok. Menurutnya, saat ini, nasib Malaysia sudah hampir seperti Singapura.

"Yang paling deket Singapore aja perdana menteri dulu pertama orang Padang, orang Melayu. Sekarang nggak ada lagi orang Melayu. Lihatlah Malaysia sudah hampir udah beberapa departemen-departemen dipimpin etnis ini," tegasnya melalui video yang diunggah kanal Youtube Refly Harun, dikutip Sabtu 21 Mei 2022.

Ia khawatir warga negara asing (WNA) yang berasal dari China atau Tiongkok bakal menjadi mayoritas di Indonesia dan akhirnya berkuasa. Pasalnya, saat ini ia melihat ribuan tenaga kerja China di Tanah Air. Dan akhirnya mereka menetap dan beranak-pinak di Indonesia.

"Kok kita nggak sadar-sadar gitu lho, bukan apa saya orang intelejen saya bisa membaca, pegawai-pegawai itu yang di Kalimantan, di Sulawesi sampai Papua nggak akan pernah kembali ke sana. Pasti di sini. Di Tiongkok punya anak dua, yang anak kedua ini kayak yatim piatu diperlakukannya oleh pemerintah. Nah di sini dia bikin anak sebanyak banyaknya. Artinya jangan sampai ini kita nggak sadar-sadar akhirnya mereka yang mayoritas bukan kita," ujarnya.

Menurutnya, silahkan saja pengusaha dari negara manapun menanam modal di Indonesia dan membawa tenaga ahli dari negaranya. Tapi harus tetap dibatasi hanya dua atau tiga orang saja, jangan sampai ribuan.

"Jangan sampe suatu saat kita itu tersisih ya. Saya jujur aja miris aja. Kok banyak sekali pekerja-pekerja asing datang," kata Bang Yos sapaan akrabnya 

"Jadi kita harus waspada sekali lagi ya. Kalau ini kita diem-diemin saya jamin orang itu nggak akan pernah pulang ke negaranya. Nggak akan pernah," sambungnya.

Dia mengatakan, bila migrasi WNA China ke tiap negara memang strategi untuk meringankan beban negara Tiongkok. Pasalnya dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 milyar, beban negara mengurusi keperluan mereka sangat berat. Dan satu-satunya cara adalah mengirim orang ke berbagai negara salah satunya Indonesia.

"Kalau saya jadi presiden Tiongkok ngurus 1,4 milyar orang orang itu mau bagaimana? Ngasih makannya ngasih papannya, ngasih sandangnya belum sekolahnya, belum rumah sakitnya nggak akan mampu. Maka yang paling mudah adalah ekspor orang," pungkasnya. (*)

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1 Komentar