JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Dr. Hasan Al Hariri, kepala eksekutif Grup Astronomi Dubai mengatakan, bulan Ramadan di tahun 2030 akan berlangsung dua kali, yakni pada Bulan Januari dan pada akhir Desember.
Hal ini disebabkan karena kalender Hijriah Islam didasarkan pada siklus bulan dan dibutuhkan 33 tahun untuk menyelesaikan satu siklus penuh.
"Kalender lunar, atau tahun berbasis lunar, 11 hari lebih pendek dari kalender matahari," ungkapnya dikutip dari laman The National News, Kamis (13/4/2022).
"Jadi, misalnya, satu tahun penuh adalah 354 hari, bukan 365 hari yang ditandai pada kalender Gregorian. Karena itu, setiap tahun yang berlalu, Ramadhan mundur 10 atau 11 hari," jelasnya.
"Fenomena ini membuatnya unik, di mana dalam satu tahun matahari kita akan memiliki dua Ramadhan. Kali berikutnya ini terjadi pada tahun 2030," tambahnya.
Dr. Al Hariri mengatakan, sementara dari "perspektif kalender matahari" bulan suci akan ditandai dua kali dalam satu tahun, dari sudut pandang kalender lunar itu masih akan terjadi hanya sekali dalam siklus 354 hari.
Dia mengatakan, jumlah hari puasa umat Islam selama Ramadan tidak akan berubah pada tahun 2030, karena selalu periode 29 atau 30 hari, tergantung pada penampakan bulan.
Bagaimana awal bulan suci ditentukan? Penampakan Bulan menandakan awal dan akhir Ramadhan, bulan kesembilan dalam kalender Islam.
Hari-hari menjelang bulan suci, otoritas keagamaan di berbagai belahan dunia mengamati langit malam untuk melihat sekilas bulan sabit, menandai dimulainya Ramadan.
Pada tahun 2030, diharapkan Ramadan akan dimulai pada awal Januari dan kemudian kembali pada akhir Desember. Ada pun fenoma dua kali Ramadan dalam setahun ini baru akan terjadi lagi pada tahun 2063 mendatang. (Rizki Febianto)