ADVERTISEMENT

Pengamat: Pertemuan Surya Paloh dan Airlangga Sarat Politis

Jumat, 11 Maret 2022 18:02 WIB

Share
Ketua Umum Golkar menemui Ketum Partai Nasdem Surya Paloh, di Jakarta. (Foto: tangkapan layar Metrotv)
Ketua Umum Golkar menemui Ketum Partai Nasdem Surya Paloh, di Jakarta. (Foto: tangkapan layar Metrotv)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, mengatakan pertemuan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Kantor DPP Nasdem sangat kental bernuansa politik.

Menurut Jamil, sangat mungkin Surya Paloh dan Airlangga membicarakan pilpres dan pilkada serentak 2024. Kedua ketua umum tersebut setidaknya menjajaki koalisi dalam mengusung capres dan calon kepala daerah.

"Untuk capres, ada kemungkinan Surya Paloh menyodorkan Anies Baswedan atau Ridwan Kamil untuk berpasangan dengan Airlangga pada pilpres 2024. Penjajakan awal ini kemungkinannya masih sangat cair, sehingga pasangan capres yang akan diusung bisa saja berubah," kata Jamil kepada Poskota, Jumat (11/3/2022).

Meski demikian, kata Jamil, Surya Paloh tampaknya akan memprioritaskan Anies dalam pencapresan 2024. Hal ini akan membuat sulitnya titik temu dengan Golkar. Sebab, Golkar telah memutuskan akan mengusung Airlangga sebagai capres.

"Titik temu tampaknya akan sulit tercapai. Masing-masing partai akan mempertahankan capresnya, sehingga koalisi untuk pilpres tampaknya sulit terwujud," ujar Jamil.

Jamil menambahkan, kemungkinan terbesar akan tercipta koalisi Nasdem dan Golkar dalam Pilkada serentak, khususnya Pilkada DKI Jakarta. Dia mengatakan ada kemungkinan kedua partai akan mengusung Sahroni dan Airin. 

Pasangan ini dinilai potensial, terutama bila sejak awal sudah diperkenalkan kepada warga Jakarta. Untuk saat ini elektabilitas Sahroni dan Airin memang masih rendah. Namun, Jamil melanjutkan, popularitas mereka sudah cukup memadai.

"Hanya saja dua partai tersebut kemungkinan akan alot dalam menentukan siapa yang menjadi cagub dan cawagub. Bahkan tidak menutup kemungkinan koalisi gagal bila kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan dalam menentukan cagub dan cawagub," kata Jamil.(*)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT