Pilih Kritikan atau Pujian?

Kamis, 27 Januari 2022 09:59 WIB

Share
Gubernur DKI Jakarta, juga tak lepas dari kritikan dan sindiran. Bahkan, paling sering mendapat kritikan, dibandingkan dengan gubernur lainnya. Ini yang terekam dan beredar dalam masyarakat.
Gubernur DKI Jakarta, juga tak lepas dari kritikan dan sindiran. Bahkan, paling sering mendapat kritikan, dibandingkan dengan gubernur lainnya. Ini yang terekam dan beredar dalam masyarakat.

DI era sekarang ini, kritikan hilir mudik seolah tiada henti. Kritikan tajam sering dilontarkan, tidak hanya kepada teman, kerabat, juga ditujukan langsung kepada pejabat.

Dengan mudahnya seseorang mengkritik orang lain, dengan sangat tajam, kadang dengan bahasa yang vulgar.

Ini sah – sah saja. Dalam negara berdemokrasi setiap orang mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat dan pernyataan, dalam bentuk lain kritikan ataupun koreksian.

Yang lagi viral dan mendapat beragam komentar adalah kritikan yang ditujukan kepada Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto terkait pemindahan Ibu Kota Negara (IKN).

Gubernur DKI Jakarta, juga tak lepas dari kritikan dan sindiran. Bahkan, paling sering mendapat kritikan, dibandingkan dengan gubernur lainnya. Ini yang terekam dan beredar dalam masyarakat.

Setiap kebijakan yang dikeluarkan Gubernur Anies Baswedan, pada ujungnya akan menuai kritikan. Sebut saja soal sumur resapan, gelaran Formula E , dari dari semula direncanakan di Monas hingga dipindahkan ke Ancol.

Jika kita sebagai orang awam ditanya, pilih yang mana, kritikan atau pujian? Jawabnya mungkin akan memilih pujian. Sebagai manusia biasa tentu membutuhkan pujian untuk memberi motivasi bahwa yang dikerjakan hasilnya bagus.Tentu, pujian yang tulus, bukan karena ada maunya. Bukan sebatas basa- basi, apalagi Asal Bapak Senang (ABS).

Pujian yang ada maunya, cenderung tidak objektif, jika tidak disebut mengada – ada. Pujian yang hanya membuat senang orang lain, hanyalah lip  service. Itulah  sebabnya, kita diminta untuk tidak terbuai karena pujian.Terlena karena sanjungan, yang sejatinya dapat menjerumuskan.Karena itu pitutur luhur mengajarkan agar kita perlu hati- hati, tidak hancur karena sanjungan. Lebih baik, selamat karena kritikan.

Yang terpenting menerima kritik dengan bijak, tetapi tidak lantas terhenti berkarya untuk bangsa dan negara karena karena kritik. Biarlah kritik menggunung, tetapi jangan kemudian terus bingung pada akhirnya jadi limbung.

Kita patut mengapresiasi pejabat yang tidak alergi terhadap kritik.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar