“HALO, Bapak Ibu apa kabar, sehat wal afiat kah? Syukur Alhamdulillah. Kesehatan adalah nomor satu sekarang ini!” sapa sahabat Bang Jalil dari jarak jauh.
“Banyak duit juga buat apa, kalau mau kemana-mana susah,” ujar istri Bang Jalil.
PPKM diperpanjang lagi, dengan level yang berbeda-beda. Dari satu sampai level 3. Ini sengaja, agar warga masyarakat nggak teledor, dan tetap taat pada prokes.
Apalagi, sekarang ini sebagian wilayah sudah mengadakan pembelajaran tatap muka bagi anak didik.
Itu artinya, bukannya warga bebas bergaul seperti zaman normal. Tapi hidup disiplin.
“Jadi, kita masih diawasi terus, ya Pak?” kata sang istri.
Bukan diawasi, tapi harus mawas diri. Kita harus tahu kalau penyakit masih mengancam.
Sekarang bukan corona saja sebagai ancaman, tapi ada yang lain. Peringatan BMKG, misalnya, bahwa cuaca ekstrem masih mengancam.
Hujan disertai petir, badai, dan gempa bumi yang mengakibatkan tsunami. Bagi warga di wilayah yang rentan dengan tanah bergerak, longsor.
“Tentu harus waspada,” kata sahabat.
“Mengerikan, ya Pak?” kata istri Bang Jalil
“Tidak, kalau kita sudah tahu apa yang akan terjadi. Kita waspada. Nggak perlu ditakuti. Tapi, harus juga disiplin dan taat pada berbagai peringatan yang disampaikan oleh pemerintah,” kata sahabat lagi.
“Jangan mentang-mentang, ya Pak? “ kata istri Bang Jalil.
“Mentang-mentang bagaimana, Bu?” Tanya Bang Jalil.
“Mentang-mentang pejabat. Orang lagi pada kesusahan karena corona dan cuaca ekstrem mengancam, eh malah pada korupsi!” kata istri Bang Jalil dengan nada sengit.
Bang Jalil hanya tersenyum kecut. Apa yang dikatakan sang istri, benar adanya.
Tapi, bagaimana ya, itu oknum pejabat kan tahu kalau negeri ini sedang berduka. Kok, tega-teganya? Kata Bang Jalil dalam hati.
“Bapak juga tega, malah lebih ekstrem!” kata sang istri.
“Maksusd Ibu?” Tanya Bang Jalil.
“PPKM levelnya turun, masa uang belanja ikut turun?” Kata sang istri. - massoes