SEORANG lelaki dengan senapan panjang siap membidik seseorang yang bukan orang biasa.
Dia, yang dibidik itu adalah orang nomor satu. Ya, dia presiden yang jadi sasaran bidikan lelaki yang belakang disebut sebagai penembak jitu, penembak bayaran.
Dari balik tembok di lantai sekian sebuah gedung, ia dengan serius membidik sasaran tembaknya.
Dan dia menarik pelatuk senapannya, wes…peluru melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Peluru mengenai sasaran.
Itu tadi satu ilustrasi adegan dalam satu film dari barat sana. Kisahnya tentu saja tentang urusan politik, rebutan kekuasaan.
Bukan ingin membahas soal ceritanya yang penuh dengan sensasi dan intrik, tapi betapa orang sebagai pelaku pembunuh di situ, dengan tenang melakukannya!
Sudah jelas dia membunuh dan bikin nyawa orang lain melayang. Kok tenang ya?
Ya, bisa jadi si pelaku adalah bagian dari kelompok lawan dari yang dibunuh.
Bisa jadi si pelaku memang mendapat tugas dari pimpinan. Dengan berbagai alasan, si pelaku memang jagoan dalam urusan tersebut.
Dia mau karena ada iming-iming kalau menang, nanti jadi salah satu pimpinan. Kepala pasukan, menteri atau apalah.
Atau paling tidak hidup keluarganya ditanggung seumur hidup?
Si pelaku bisa juga memang pekerjaannya membunuh. Dia itu yang disebut sebagai pembunuh bayaran.
Dia akan melakukan pekerjaannya dengan tegas. Pokoknya dapat order, ente harus bunuh itu orang, nanti dapat bayaran sekian juta.
Dia melaksanakan tugasnya, mengeksekusi korban. Tugasnya adalah membunuh.
Nggak peduli dan nggak punya pikiran macam-macam akibat dari perbuatannya.
Bahwa si korban meninggalkan anak istri yang akan menderita sepanjang hayatnya?
Peristiwa belakangan ini yang menyita perhatian masyarakat luas, seperti kasus di Subang, seorang ibu dan anak gadisnya tewas dibunuh.
Polisi menduga pelakunya lebih dari satu dan orang dekat?
Nah, disebut orang yang dikenal, orang dekat, kok bisa tega menghabisi nyawa korban?
Sebagian orang akan bertanya-tanya, kok ada ya orang sebegitu teganya menghilangkan nyawa orang lain? Apalagi, kenal, misalnya?
Dari sinilah, mungkin antara korban dan pelaku punya masalah, sakit hati, dendam hingga membuat pelaku buta hati?
Atau juga ada yang disebut sebelumnya, pelaku itu pembunuh bayaran? Hanya Tuhan yang tahu.
Selebihnya, petugaslah yang harus kerja keras mengungkap peristiwa tersebut, dengan tepat dan akurat.
Seperti yang disebutkan, bahwa pelaku kejahatan sengaja atau tidak, selalu meninggalkan jejak atau bukti kejahatannya. - massoes