Wakil Rakyat dari Yogja Minta BPPTKG Pertajam Akurasi Deteksi Aktivitas Erupsi Merapi
Sabtu, 21 November 2020 15:16 WIB
Share
Gunung Merapi, ilustrasi.

JAKARTA – Wakil rakyat dari Yogjakarta Gandung Pardiman meminta kepada Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta agar mempertajam akurasi ketika mendeteksi terjadinya aktivitas erupsi dari Gunung Merapi.

Menurut anggota Komisi VII DPR itu akurasi ini penting dipertajam agar tidak menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat.

"Menurut saya deteksi erupsi Gunung Merapi saat ini kehati-hatiannya terlalu tinggi. Karena sebetulnya volume kawah lava kan 10 juta-an meter kubik, sedangkan laju keluarnya magma ke permukaan masih di bawah 3 juta, tapi statusnya sudah siaga tiga," ujar Gandung terkait hasil kunjungannya ke  BPPTKG dan BNPB di Yogyakarta, Kamis lalou.

Baca juga: BNPB Berikan Bantuan Masing-masing Rp1 Miliar Pada 4 KRB Gunung Merapi

Politisi Fraksi Partai Golkar itu mengatakan, jangan sampai karena peningkatan status siaga yang terlalu cepat, menyebabkan masyarakat terlalu lama mengungsi.

"Saya ingin dalam memantau aktifitas erupsi gunung merapi tetap memperhatikan faktor kehati-hatian. Kalau memang membutuhkan alat-alat untuk menunjang kinerja, kita pasti akan perjuangkan anggaran pengadaannya di rapat Komisi VII DPR RI," imbuhnya.

Komisi VII DPR RI saat ini juga sedang dalam proses mengkaji pembentukan badan riset yang terpusat. Mengingat, selama ini riset masih terpencar dan tidak fokus. Mudah-mudahan dengan terbentuknya badan ini kelak, bisa membantu akurasi penetapan siaga Gunung Merapi.

Baca juga: Antisipasi Letusan Merapi, Kepala BNPB Berikan Pengarahan Pada TFG

Dalam kesempatan itu, Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaidah mengatakan, teori volkanologi belum ada yang bisa mengatakan kapan terjadinya erupsi. Begitupula dengan teknologi yang ada saat ini pun debul mampu mendeteksi kapan erupsi Gunung Merapi.

"Jadi saat ini, kami melalui data pemantauan baik seismik maupun deformasi masih tinggi dan aktivitas guguran meningkat. Ini menunjukkan dekatnya waktu erupsi. Jadi kami bersikap, berdasarkan pengalaman membuat skenario bahaya terburuk sesuai dalam rencana Kontijensi BPBD Lingkar Merapi dengan skenario antara prakiraan bahaya status siaga yang saat ini diterapkan," jelasnya. (*/win)

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler