JAKARTA – Untuk meyakinkan pembunuh bayaran yang merupakan murid orangtuanya, otak pembunuh Bos Pelayaran, Nur Luthfiah (34) pura-pura kerasukan orangtuanya yang sudah lama meninggal.
Saat kerasukan, Nur didepan beberapa tersangka menyebut untuk membantu anaknya yang dilecehkan agar menghabisi nyawa korban Sugianto (51).
"Tersangka NL ini kerasukan orangtuanya didepan beberapa tersangka. Dan meminta para tersangka membantu NL membunuh korban," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, Senin (24/8/2020).
Karena orangtua Nur sebagai guru yang disegani di daerah Lampung, sehingga para tersangka yakin dan bersedia membantu Nur dan hal tersebut sebagai perjuangan membantu anak gurunya yang kerap dilecehkan.
Usai Bos pelayaran dibunuh, Suprayitno lalu mengumpulkan handphone Arbain Junaedi (redaktur salah satu media online) sebagai pelatih menembak dan Syahrul sebagai Joki untuk di riset dan dijual ke media sosial (sosmed) untuk menghilangkan jejak.
Dari hasil penyelidikan tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jaya kemudian membekuk ke 12 tersangka, mereka adalah otak pembunuh, Nur Luthfiah, Ruhiman (42) suami siri Nur. Eksekutor Dikky Mahfud (50), Syahrul (58) sebagai Joki.
Kemudian Rosidi (52), Mohammad Rivai (25), Dedi Wahyudi (45), Ir Arbain Junaedi (56), Sodikin (20(, Raden Sarmada (45), Suprayitno (57), dan Totok Hariyanto (64).
Dari para tersangka polisi menyita, senpi Browning Arms Company dengan nomor seri NM01548 berikut amunisi merk Fiochi kaliber 380 Auto sebanyak 43 butir dari tersangka Dikky, sepeda motor vario hitam B 3914 UOL, 2 butir peluru kaliber 38 rev dan uang tunai Rp 90 juta.
Kemudian, 5 pisau disita dari tersangka Arbain, mobil Pajero Sport BE 1064 FG, mobil Fortuner B 2718 SJA, 8 handphone, dan baju yang digunakan para tersangka. Selanjutnya buku tabungan bank, kartu ATM, swrta surat sari kantor pajak. (ilham)