JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Lalu lalang orang di kawasan Monumen Nasional (Monas) menjadi sinyal bagi Mufit mendapatkan pelanggan. Ia merupakan pedagang makanan.
Setiap kali pengunjung melintasi warungnya, Mufit sambil membawa papan menu berisi daftar makanan.
"Kalau enggak begini, enggak laku," kata Mufit yang sedang duduk di depan warung makanannya itu, Minggu, 27 April 2025.
Pria asal Madura ini yang sudah hampir dua tahun berjualan makanan, mulai nasi goreng hingga soto ini, harus pasang wajah ceria untuk menarik pelanggan.
Baca Juga: Festival Lebaran Betawi di Monas Disambut Meriah Warga
“Harus begini, kalau enggak nanti pelanggan malah mampir ke warung sebelah,” ucapnya.
Sesekali Mufit berhenti menawarkan dagangannya itu. Namun, ketika pengunjung yang melintas berbondong, ia langsung berdiri sambil menyodorkan menu makanan.
"Alhamdulillah pasti ada aja yang mampir ke warung buat makan," katanya.
Tak sendiri, Mufit ditemani sang istri, Nani, 28 tahun. Nani bertugas memasak dan menyajikan makanan ke pelanggan.
Nina mengaku, ketika Monas sedang ramai, seperti sekarang sedang ada acara Lebaran Betawi, pendaratannya pasti meningkat.
“Yang pasti omzet naik, tapi enggak beda jauh lah sama hari-hari biasanya,” ucapnya.
Nina mengaku, omzet yang ia dapat dari berjualan makanan di Monas, cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
“Ya enggak banyak, tapi cukup buat kebutuhan sehari-hari. Kalau lagi ramai ya alhamdulillah dapat lebih dikit lah,” ungkapnya.
Baca Juga: Pakar Tata Kota Kritik Rencana Pusat Oleh-oleh di Monas, Dinilai Tak Lagi Relevan
Terpisah, pedagang kopi keliling, Solehudin, 22 tahun mengaku omzet meningkat dua kali lipat jika kawasan Monas sedang ramai pengunjung.
“Kalau lagi ramai kayak gini bisa sampai Rp400 ribu, itu kotor. Tapi kalau hari biasa paling Rp150-200 ribu," ujarnya.