POSKOTA.CO.ID — Pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, menyoroti pentingnya pembinaan usia muda dalam membangun masa depan sepak bola Indonesia.
Ia memuji program Elite Pro Academy (EPA) sebagai langkah awal, namun mengingatkan bahwa sistem ini harus terus dikembangkan.
“EPA adalah awal yang baik, tapi harus punya rencana lima tahun ke depan,” ujar Bojan. Ia menekankan pentingnya memiliki lebih banyak klub yang wajib menjalankan akademi pemain muda.
Menurutnya, Indonesia bisa meniru sistem Kroasia yang sukses menghasilkan pemain top meski hanya memiliki populasi 4 juta. “Kami punya 1.300 klub, dan setiap klub wajib memiliki akademi,” jelasnya.
Baca Juga: Bojan Hodak Ungkap Rahasia Persib Bandung Tetap Tangguh Meski Didera Cedera
Hodak percaya bahwa keberhasilan tim nasional tak bisa dilepaskan dari pembinaan jangka panjang. Ia juga menyebut negara-negara Asia umumnya belum maksimal dalam mengembangkan usia muda.
Ia menambahkan, pembinaan usia muda yang kuat akan mengurangi ketergantungan pada pemain naturalisasi. “Yang penting sekarang adalah Indonesia fokus pada pengembangan usia muda,” katanya.
Terkait pemain keturunan, Hodak menyebut tak ada masalah jika mereka memang punya darah Indonesia. Ia memuji Erick Thohir yang berani berinvestasi demi kemajuan sepak bola nasional.
“Banyak yang mengeluh soal pemain Belanda, tapi mereka sah menurut aturan FIFA,” ujarnya. Ia percaya kehadiran pemain keturunan bisa membantu proses transisi sambil memperkuat akar pembinaan lokal.
Hodak juga berharap setiap klub di Liga 1 diwajibkan membina usia muda secara serius. Menurutnya, klub profesional tidak layak eksis jika tidak berkontribusi terhadap pengembangan pemain lokal.
“Jangan izinkan klub tanpa akademi bermain di level tertinggi,” katanya tegas. Ia ingin Indonesia tidak hanya jago kandang, tapi juga tampil bersaing di level dunia.
Pandangan Bojan ini menjadi catatan penting bagi federasi dan klub-klub Indonesia. Pembangunan sepak bola nasional bukan hanya soal pemain bintang, tetapi soal sistem yang kuat dari bawah.