Meski IPO Lulu Group di Bursa Abu Dhabi pada 2024 berhasil mengumpulkan US$1,7 miliar, dana tersebut tak cukup menutup kerugian operasional di Asia Tenggara.
d. Krisis Logistik Global
Gangguan rantai pasok sejak 2023 membuat stok barang sulit masuk ke gerai. Hal ini memperburuk citra Lulu di mata konsumen lokal.
4. Dampak Sosial dan Ekonomi terhadap Karyawan dan Industri Ritel
Penutupan sejumlah gerai Lulu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berdampak langsung pada ribuan karyawan. Belum ada keterangan resmi mengenai jumlah PHK, namun situasi ini mencerminkan tantangan serius dalam menjaga keberlanjutan tenaga kerja di sektor ritel fisik.
Lebih luas lagi, ini menjadi sinyal peringatan bagi bisnis ritel lain untuk melakukan transformasi digital dan efisiensi operasional.
5. Strategi Bisnis dan Arah Masa Depan Lulu Group
Meski menutup cabang di beberapa negara Asia Tenggara, Lulu Group tidak serta-merta runtuh. Bisnisnya tetap kuat di Timur Tengah dan sebagian Eropa.
Langkah Strategis yang Diambil Lulu Group:
- Likuidasi Aset Non-Stratejik: Termasuk properti dan hotel yang tidak mendukung bisnis inti.
- Fokus pada Premium Grocery dan Produk Halal: Menargetkan konsumen kelas menengah atas di negara mayoritas Muslim.
- Kolaborasi dengan Platform Online: Seperti kerja sama dengan Grab dan Talabat di kawasan Arab.
Dengan strategi tersebut, Lulu mencoba menyesuaikan diri dengan tren belanja digital tanpa sepenuhnya meninggalkan format ritel fisik.
6. Negara-Negara yang Masih Menjadi Basis Operasi Lulu Hypermarket
Meskipun cabang di Indonesia dan sebagian Asia Tenggara tutup, Lulu Hypermarket masih eksis dan berkembang di sejumlah negara:
Wilayah Timur Tengah:
- Uni Emirat Arab (UEA)
- Qatar
- Oman
- Kuwait
Wilayah Asia:
- India (market utama)
- Malaysia (cabang terbatas)
Wilayah Eropa & Afrika:
- Inggris
- Turki
- Mesir
7. Pandangan Pakar Ekonomi terhadap Model Ritel Konvensional
Menurut Dr. Rina Wijayanti, ekonom ritel dari Universitas Indonesia, fenomena ini menunjukkan perlunya inovasi dalam bisnis ritel.
"Krisis Lulu Hypermarket membuktikan bahwa model ritel fisik konvensional harus bertransformasi. Integrasi teknologi, personalisasi layanan, dan strategi omnichannel menjadi kunci bertahan di era digital."
Pernyataan ini menegaskan bahwa bisnis ritel harus berani berubah jika ingin tetap relevan dalam persaingan global.
Baca Juga: Cara Atasi M-Banking BCA yang Terblokir Tanpa ke Bank, Mudah dan Praktis
8. Kesimpulan dan Prediksi Lanskap Ritel Global
Penutupan Lulu Hypermarket di Indonesia bukan sekadar isu lokal, melainkan bagian dari dinamika global industri ritel. Meskipun pemiliknya adalah miliarder dengan jaringan internasional, krisis tetap bisa melanda jika adaptasi tidak segera dilakukan.