Suasana di gerai Lulu Hypermarket. (Sumber: Dok/Biro Humas Kemendag)

HIBURAN

Viral Lulu Hypermarket Dikabarkan Tutup, Ini Profil Pemilik dan Lokasi Gerainya di Indonesia

Sabtu 05 Apr 2025, 14:28 WIB

POSKOTA.CO.ID - Pada awal April 2025, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kondisi sepi pengunjung dan rak kosong di sejumlah gerai Lulu Hypermarket.

Gerai di Cakung (Jakarta Timur) dan The Park Sawangan (Depok) menjadi contoh nyata, di mana laporan penutupan permanen pada 10 April 2025 mulai merebak.

Informasi ini diperkuat dengan adanya diskon besar-besaran serta pengakuan staf yang menyatakan bahwa toko akan segera tutup usai Lebaran 2025.

Fenomena ini mengundang pertanyaan mendasar: mengapa ritel sekelas Lulu bisa menghadapi kondisi seperti ini?

Baca Juga: Founder Football Institute Sebut Kesuksesan Timnas Indonesia U-17 Berkat PSSI Bukan STY

2. Sosok Yusuff Ali: Pemilik Lulu Group International

Di balik kesuksesan Lulu Hypermarket berdiri nama Yusuff Ali M.A., miliarder asal India yang kini menetap di Uni Emirat Arab (UEA). Beliau dikenal sebagai raja ritel Timur Tengah dan tokoh penting dalam lanskap bisnis global.

Profil Singkat Yusuff Ali:

Selain hypermarket, portofolio bisnisnya meliputi hotel mewah (Waldorf Astoria Skotlandia), properti ikonik (Great Scotland Yard Hotel, London), dan saham mayoritas di Bandara Internasional Cochin, India.

3. Analisis Penyebab Penurunan Operasional Lulu di Asia Tenggara

Meskipun Yusuff Ali merupakan sosok berpengalaman, Lulu Group menghadapi tantangan besar di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Berikut beberapa penyebab utama kemerosotan tersebut:

a. Melemahnya Daya Beli Masyarakat

Pasca pandemi COVID-19, banyak konsumen mengurangi pengeluaran. Kombinasi inflasi, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan ketidakpastian ekonomi memperparah situasi.

b. Gempuran E-Commerce

Platform daring seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop telah mengubah pola belanja masyarakat. Pengalaman belanja yang cepat dan murah membuat hypermarket kehilangan daya tarik.

c. Ekspansi Agresif & IPO yang Tidak Efektif

Meski IPO Lulu Group di Bursa Abu Dhabi pada 2024 berhasil mengumpulkan US$1,7 miliar, dana tersebut tak cukup menutup kerugian operasional di Asia Tenggara.

d. Krisis Logistik Global

Gangguan rantai pasok sejak 2023 membuat stok barang sulit masuk ke gerai. Hal ini memperburuk citra Lulu di mata konsumen lokal.

4. Dampak Sosial dan Ekonomi terhadap Karyawan dan Industri Ritel

Penutupan sejumlah gerai Lulu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berdampak langsung pada ribuan karyawan. Belum ada keterangan resmi mengenai jumlah PHK, namun situasi ini mencerminkan tantangan serius dalam menjaga keberlanjutan tenaga kerja di sektor ritel fisik.

Lebih luas lagi, ini menjadi sinyal peringatan bagi bisnis ritel lain untuk melakukan transformasi digital dan efisiensi operasional.

5. Strategi Bisnis dan Arah Masa Depan Lulu Group

Meski menutup cabang di beberapa negara Asia Tenggara, Lulu Group tidak serta-merta runtuh. Bisnisnya tetap kuat di Timur Tengah dan sebagian Eropa.

Langkah Strategis yang Diambil Lulu Group:

Dengan strategi tersebut, Lulu mencoba menyesuaikan diri dengan tren belanja digital tanpa sepenuhnya meninggalkan format ritel fisik.

6. Negara-Negara yang Masih Menjadi Basis Operasi Lulu Hypermarket

Meskipun cabang di Indonesia dan sebagian Asia Tenggara tutup, Lulu Hypermarket masih eksis dan berkembang di sejumlah negara:

Wilayah Timur Tengah:

Wilayah Asia:

Wilayah Eropa & Afrika:

7. Pandangan Pakar Ekonomi terhadap Model Ritel Konvensional

Menurut Dr. Rina Wijayanti, ekonom ritel dari Universitas Indonesia, fenomena ini menunjukkan perlunya inovasi dalam bisnis ritel.

"Krisis Lulu Hypermarket membuktikan bahwa model ritel fisik konvensional harus bertransformasi. Integrasi teknologi, personalisasi layanan, dan strategi omnichannel menjadi kunci bertahan di era digital."

Pernyataan ini menegaskan bahwa bisnis ritel harus berani berubah jika ingin tetap relevan dalam persaingan global.

Baca Juga: Cara Atasi M-Banking BCA yang Terblokir Tanpa ke Bank, Mudah dan Praktis

8. Kesimpulan dan Prediksi Lanskap Ritel Global

Penutupan Lulu Hypermarket di Indonesia bukan sekadar isu lokal, melainkan bagian dari dinamika global industri ritel. Meskipun pemiliknya adalah miliarder dengan jaringan internasional, krisis tetap bisa melanda jika adaptasi tidak segera dilakukan.

Prediksi ke Depan:

Kisah Lulu Hypermarket menjadi pengingat bahwa keberhasilan masa lalu tidak menjamin masa depan. Di tengah perubahan pola konsumsi global, hanya perusahaan yang mampu membaca arah pasar dan berinovasi yang akan bertahan. Bagi para pelaku ritel, inilah saatnya bertransformasi, sebelum terlambat.

Tags:
Lulu Hypermarket punya siapa?Lulu Group InternationalYusuff Ali MAPenutupan ritel 2025Lulu Hypermarket

Yusuf Sidiq Khoiruman

Reporter

Yusuf Sidiq Khoiruman

Editor