POSKOTA.CO.ID - Pada awal April 2025, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kondisi sepi pengunjung dan rak kosong di sejumlah gerai Lulu Hypermarket.
Gerai di Cakung (Jakarta Timur) dan The Park Sawangan (Depok) menjadi contoh nyata, di mana laporan penutupan permanen pada 10 April 2025 mulai merebak.
Informasi ini diperkuat dengan adanya diskon besar-besaran serta pengakuan staf yang menyatakan bahwa toko akan segera tutup usai Lebaran 2025.
Fenomena ini mengundang pertanyaan mendasar: mengapa ritel sekelas Lulu bisa menghadapi kondisi seperti ini?
Baca Juga: Founder Football Institute Sebut Kesuksesan Timnas Indonesia U-17 Berkat PSSI Bukan STY
2. Sosok Yusuff Ali: Pemilik Lulu Group International
Di balik kesuksesan Lulu Hypermarket berdiri nama Yusuff Ali M.A., miliarder asal India yang kini menetap di Uni Emirat Arab (UEA). Beliau dikenal sebagai raja ritel Timur Tengah dan tokoh penting dalam lanskap bisnis global.
Profil Singkat Yusuff Ali:
- Kekayaan Bersih: US$5,4 miliar (Rp89,45 triliun) per 2025 (Forbes)
- Asal: Kerala, India Selatan
- Hijrah: Merantau ke Abu Dhabi tahun 1973
- Bisnis: Pendiri Lulu Group International, pemilik lebih dari 240 gerai hypermarket
Selain hypermarket, portofolio bisnisnya meliputi hotel mewah (Waldorf Astoria Skotlandia), properti ikonik (Great Scotland Yard Hotel, London), dan saham mayoritas di Bandara Internasional Cochin, India.
3. Analisis Penyebab Penurunan Operasional Lulu di Asia Tenggara
Meskipun Yusuff Ali merupakan sosok berpengalaman, Lulu Group menghadapi tantangan besar di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Berikut beberapa penyebab utama kemerosotan tersebut:
a. Melemahnya Daya Beli Masyarakat
Pasca pandemi COVID-19, banyak konsumen mengurangi pengeluaran. Kombinasi inflasi, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan ketidakpastian ekonomi memperparah situasi.
b. Gempuran E-Commerce
Platform daring seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop telah mengubah pola belanja masyarakat. Pengalaman belanja yang cepat dan murah membuat hypermarket kehilangan daya tarik.