Timnas Spanyol saat menjuarai Piala Eropa 2012 dengan menggunkan strategi false nine. (Sumber: X/@EURO2024)

OLAHRAGA

Mengulas Peran False Nine, Strategi yang Dipopulerkan Timnas Spanyol di Piala Eropa 2012

Sabtu 05 Apr 2025, 09:35 WIB

POSKOTA.CO.ID - Istilah false nine semakin marak dan tidak asing di telinga para pecinta sepakbola, terlebih setelah istilah itu dipopulerkan Timnas Spanyol di Piala Eropa 2012.

Saat itu hampir selama turnamen EURO 2012, pelatih Viencte Del Bosque kerap mencoba memainkan Cesc Fabregas (gelandang) di posisi ujung tombak menggantikan Fernando Torres yang pada masa itu mengalami kemunduran performa.

Istilah false nine semakin populer karena ternyata strategi Del Bosque membuahkan hasil manis berupa trofi Piala Eropa 2012 yang berhasil digondol Spanyol.

Namun, masih banyak yang keliru menerjemahkan istilah false nine ini. Banyak yang menyangka bahwa false nine adalah penyerang palsu di mana seorang gelandang ditempatkan sebagai penyerang.

Baca Juga: Update Daftar Negara yang Lolos ke Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Jaga Peluang

Peran False Nine

Padahal, pengertian itu kurang tepat. False nine sendiri bukanlah sebuah nama untuk posisi, melainkan role atau peran.

Lebih detailnya, peran false nine bukan tentang siapa yang memainkannya, tetapi seperti apa ia bermain.

Lalu, seperti apa ciri-ciri seorang false nine bermain? Untuk menjawab hal ini ada baiknya kita telusuri lebih jauh soal sejarah peran false nine ini.

Meski baru kembali populer di Piala Dunia 2010 lalu, sebenarnya peran ini sudah ada sejak tahun 1930-an, atau tahun di mana Piala Dunia pertama mulai diselenggarakan.

Melansir dari situs Tale of Two Halves, sebuah akademi sepakbola bernama Danubian School di Austria yang pertama kali menggunakan false nine ini.

Tak hanya di Austria dan Eropa Tengah lain, klub profesional Argentina pun, River Plate, saat itu menggunakan pola yang sama.

Kendati begitu, ia meyakini bahwa Mathias Sindelaar dari Hungaria-lah yang sukses mempopulerkan peran false nine lewat permainannya di era 1950-an.

Meski berposisi asli penyerang, ia lebih sering berada di depan kotak penalti (drop deeper) dan menjadi pembagi bola serta pencipta ruang untuk rekan setimnya di lini pertahanan lawan.

Baca Juga: Update Ranking FIFA: Malaysia Gigit Jari, Gagal Tikung Timnas Indonesia

Dilahirkan Kembali oleh Francesco Totti

Setelah lama menghilang, peran false nine kembali muncul di Eropa pada tahun 2006, dengan Luciano Spaletti yang pertama kali mendaur ulang skema ini bersama AS Roma.

Spalletti memainkan Francesco Totti yang biasanya bermain sebagai gelandang serang atau playmaker, menjadi penyerang utama dalam formasi dasar 4-1-4-1.

Namun, praktik di lapangannya penyerangan Roma saat itu membuat mereka seperti bermain tanpa penyerang, karena Totti tetap bermain layaknya gelandang serang meski secara posisi ia ditempatkan menjadi penyerang tengah tunggal.

Uniknya, ketika Totti bertindak sebagai false nine, justru ikon Roma tersebut berhasil mencetak 32 gol dalam satu musim dan membuatnya meraih gelar top skor Serie A dan Sepatu Emas Eropa.

Skema tersebut lalu diadaptasi lagi oleh Barcelona era Pep Guardiola di tahun 2009 dengan menjadikan Lionel Messi sebagai pemain karakter itu.

Intinya, peran false nine memiliki beberapa kecenderungan. Seorang false nine tidak banyak bermain di area kotak penalti layaknya penyerang klasik.

Seorang false nine bahkan tampak seperti seorang gelandang serang yang punya visi, daya jelajah, teknik dan kreasi serangan yang tinggi.

Maka dari itu tugasnya tidak hanya mencetak gol, ia juga harus menciptakan ruang bagi dirinya sendiri maupun rekan setim.

Tags:
TimnasSpanyolPiala Eropafalse nineVicente Del Bosque

Wildan Apriadi

Reporter

Wildan Apriadi

Editor