POSKOTA.CO.ID - Jagat media sosial, terutama X (dulu Twitter), dibanjiri curahan hati masyarakat yang mengeluhkan tagihan listrik melonjak drastis setelah diskon 50 persen berakhir.
Tak sedikit yang melaporkan kenaikan hingga dua kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya, padahal konsumsi listrik dinilai tidak mengalami peningkatan signifikan.
Salah satu akun X, @SeputarTe****, bahkan membuat cuitan khusus untuk menampung keluhan para warganet.
"Mulai terdengar jeritan para warga pengguna listrik Pascabayar," cuit akun X @SeputarTe**** yang ramai di balas warganet.
Banyak yang mengaku penggunaan listrik tidak mengalami perubahan signifikan, namun tagihan justru meningkat tajam usai diskon tarif listrik sebesar 50 persen resmi dicabut.
"AN*EEENGGG PRAB0W0 LO BISA KERJA GAK SIIIIHHH?!!! Tagihan listrik gue naik jadi 328 ribuu ko*toll!!! Gue ga pernah pake mesin cuci, nyetrika juga engga (karena gue laundry). Kulkas cuma 1. Air juga PDAM. Ini gue cuma bayarin lampu doang? Pemerintah bangsaattt," tulis pengguna akun X @carm**** yang meluapkan kemarahannya.
"Biaya listrik aku naik lebih dari 50 persen. emang sih pemakain naik selama bulan ramadhan ini," ungkap pengguna X @naj***.
"Diskon tagihan listrik bulan lalu ditambahin buat bulan ini atau gimana dah. Bulan ini sampe 500rb dong… paling mahal biasanya cuma 250an," keluh akun X lainnya @szk***.
Baca Juga: Cek Fitur dan Spesifikasi ALVA N3, Motor Listrik Harga Bersahabat
Seperti diketahui, Pemerintah melalui Kementerian ESDM menetapkan tarif listrik triwulan II (April–Juni 2025) untuk 13 golongan pelanggan nonsubsidi.
Meskipun, parameter ekonomi makro seperti kurs, harga minyak mentah (ICP), inflasi, dan Harga Batubara Acuan (HBA) mengalami fluktuasi.
Namun, karena program diskon telah berakhir, efek langsung pun mulai dirasakan masyarakat luas.
Penyesuaian tarif listrik ini didasarkan pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2024, yang menyebutkan bahwa tarif pelanggan nonsubsidi akan disesuaikan setiap tiga bulan.
Tarif listrik untuk bulan April 2025 sendiri dihitung berdasarkan data ekonomi makro dari bulan November 2024 hingga Januari 2025.
Dalam praktiknya, meskipun tarif tidak naik, pencabutan diskon jelas memberi dampak besar pada jumlah tagihan yang diterima pelanggan.
Baca Juga: PLN Imbau Pelanggan Bayar Listrik di Awal Waktu agar Nyaman Selama Ramadhan
Faktor Lain Penyebab Tagihan Listrik Naik
Di luar kebijakan tarif dan diskon, ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi kenaikan tagihan listrik. Berikut ini beberapa kemungkinan penyebabnya.
1. Kenaikan Tarif Dasar untuk Golongan Tertentu
Meskipun tarif untuk 13 golongan pelanggan nonsubsidi tidak berubah, penyesuaian bisa terjadi pada golongan lainnya atau pada parameter lain yang berdampak jangka panjang.
2. Perubahan Perilaku Pemakaian Listrik
Selama Ramadan, kegiatan di rumah cenderung meningkat, seperti memasak lebih sering, menyalakan lampu lebih lama, atau penggunaan AC dan kipas angin secara intensif.
3. Penggunaan Peralatan Listrik yang Tidak Efisien
Peralatan elektronik lama atau kurang hemat energi menyerap lebih banyak daya listrik. Misalnya, kulkas lama atau televisi tabung bisa jadi penyedot energi besar tanpa disadari.
4. Tagihan Menumpuk dari Bulan Sebelumnya
Jika sebelumnya ada tunggakan atau pembayaran hanya sebagian, maka sisa tagihan akan dibebankan ke bulan berikutnya, menyebabkan tagihan terlihat membengkak.
5. Kesalahan Pembacaan Meter atau Sistem Estimasi
Dalam beberapa kasus, PLN tidak dapat membaca meteran karena akses yang terbatas. Maka, tagihan akan menggunakan sistem estimasi yang bisa lebih tinggi dari penggunaan riil.
6. Kabel Rusak atau Korsleting Listrik di Rumah
Kabel yang rusak bisa menyebabkan arus pendek atau pemborosan energi tanpa disadari. Ini adalah penyebab tersembunyi yang jarang diperiksa oleh penghuni rumah.
7. Pemakaian Listrik Meningkat karena Jumlah Penghuni
Tambahan penghuni sementara selama bulan Ramadhan atau libur sekolah juga bisa meningkatkan konsumsi listrik.
8. Penggunaan Lampu Berlebihan dan Tidak Hemat Energi
Lampu yang menyala sepanjang hari, terutama jenis yang tidak hemat energi, dapat berdampak besar pada konsumsi listrik harian.