POSKOTA.CO.ID - Lebaran bukan sekadar hari raya biasa. Setiap tahunnya, jutaan umat Islam di Indonesia menantikan momen ini dengan penuh suka cita.
Dari suasana takbiran yang menggema di berbagai penjuru kota hingga tradisi mudik yang selalu menjadi fenomena khas, Lebaran telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Namun, tahukah Anda bagaimana Lebaran berkembang di Indonesia? Apa yang membuatnya begitu istimewa? Mari kita telusuri sejarah dan tradisinya dari masa ke masa.
Awal Mula Lebaran di Nusantara

Melansir informasi yang disampaikan kanal YouTube Frog2Crowlr Production, sejarah Lebaran di Indonesia tak bisa dipisahkan dari masuknya Islam ke Nusantara.
Sejak abad ke-7 hingga abad ke-13, para pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat membawa ajaran Islam melalui jalur perdagangan.
Islam pun menyebar luas, terutama di wilayah pesisir Sumatera, Jawa, dan Maluku.
Ketika kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudra Pasai, Demak, dan Mataram Islam mulai berdiri, perayaan Idul Fitri semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Pada awalnya, perayaan Lebaran berlangsung sederhana, hanya dengan melaksanakan salat Id dan bersilaturahmi.
Namun, seiring berjalannya waktu, unsur budaya lokal mulai berpadu dengan perayaan ini.
Salah satu yang paling terkenal adalah tradisi Grebeg Syawal di Kesultanan Demak, yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.
Tradisi ini berupa pembagian makanan kepada rakyat sebagai simbol kebersamaan dan berbagi rezeki setelah sebulan penuh berpuasa.
Perkembangan Tradisi Lebaran

Tak hanya itu, tradisi mudik juga diperkirakan telah ada sejak masa kerajaan Islam. Para santri yang menimba ilmu di pesantren akan pulang ke kampung halaman mereka setelah Ramadan untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga.
Hingga kini, tradisi ini masih lestari dan bahkan menjadi salah satu momen paling dinanti menjelang Lebaran.
Ketika Indonesia berada di bawah penjajahan, perayaan Lebaran tetap berlangsung meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Baca Juga: Kumpulan Twibbon Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Desain Dibaluti Nuansa Lebaran Penuh Damai
Pemerintah kolonial Belanda awalnya tidak terlalu memperhatikan hari raya umat Islam. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah pemeluk Islam, mereka akhirnya mengakui Idul Fitri sebagai hari libur bagi pekerja pribumi di beberapa daerah.
Lebaran juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Di masa-masa awal kemerdekaan, momen ini menjadi ajang bagi para pejuang untuk bertukar informasi dan menyusun strategi melawan penjajah.
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Lebaran semakin diakui sebagai hari besar nasional.
Pada tahun 1946, pemerintah resmi menetapkan Idul Fitri sebagai hari libur nasional, memperkuat posisinya sebagai salah satu perayaan terpenting di Indonesia.
Lebaran di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, Lebaran semakin meriah dengan berbagai tradisi yang berkembang.
Takbiran keliling, halal bihalal, dan pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini.
Tradisi halal bihalal sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Soekarno dan tokoh Islam KH Wahab Hasbullah untuk mempererat persatuan para pemimpin politik setelah kemerdekaan.
Kini, tradisi tersebut meluas ke berbagai lingkungan, baik keluarga, kantor, maupun instansi pemerintah.
Di era digital, perayaan Lebaran juga semakin berubah. Jika dulu masyarakat mengirim kartu ucapan sebagai bentuk silaturahmi, kini pesan-pesan Lebaran dapat dikirim dengan cepat melalui WhatsApp, Instagram, dan platform digital lainnya.
Mudik pun tetap menjadi tradisi penting, dengan pemerintah bahkan menyediakan program mudik gratis untuk membantu masyarakat pulang ke kampung halaman.
Tak hanya itu, semangat berbagi di bulan Syawal semakin berkembang dengan banyaknya kegiatan sosial seperti pembagian zakat, santunan kepada anak yatim, dan berbagi makanan kepada mereka yang membutuhkan.
Ini menegaskan bahwa Lebaran bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat solidaritas sosial.
Bukan Sekadar Perayaan

Dari masa kerajaan hingga era modern, Lebaran terus berkembang dan menjadi momen istimewa bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
Tradisi seperti mudik, halal bihalal, dan berbagi rezeki adalah bukti bahwa Lebaran lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Ia adalah simbol persatuan, kasih sayang, dan kebersamaan yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia.
Di tengah kemeriahan Lebaran, mari kita jadikan momen ini sebagai ajang untuk mempererat silaturahmi, berbagi kebahagiaan, dan merenungi makna sebenarnya dari Idul Fitri.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.