Ilustrasi klub LIga Indonesia yang sudah bubar. (Sumber: Freepik)

OLAHRAGA

5 Klub Liga Indonesia yang Sudah Bubar dan Tinggal Cerita

Selasa 01 Apr 2025, 11:51 WIB

POSKOTA.CO.ID - Kompetisi sepak bola Liga Indonesia memiliki sejarah panjang, dari mulai format, klub-klub yang pernah eksis, hingga pergantian nama liga yang dulunya bernama Galatama.

Galatama sendiri merupakan singkatan dari Galatama Liga Sepakbola Utama, yang dibentuk PSSI pada 1974 sebagai kompetisi semiprofesional pertama di Indonesia.

Kompetisi Liga Utama ketika itu diikuti klub-klub yang berasal dari seluruh Indonesia dengan nama beragam dan unik.

Namun, banyak di antaranya yang tak sanggup bertahan hingga saat ini karena beragam alasan.

Baca Juga: Gandeng Bundesliga Jerman, Pakar: Upaya Erick Thohir Jadikan Liga Indonesia Terbaik di ASEAN

Nostalgia 5 Klub Liga Indonesia

Berikut adalah 5 klub yang pernah eksis di Liga Indonesia tetapi kini sudah bubar dan tinggal kenangan meski sebagiannya ada yang berganti nama menjadi klub baru.

1. Bandung Raya

Klub yang didirikan pada tahun 1987 ini memiliki nama lengkap Martrans Bandung Raya dan tercatat berpartisipasi di Galatama.

Pada musim kedua keikutsertaannya di Liga Indonesia, Bandung Raya berhasil menjuarai Liga Indonesia 1995/1996.

Namun pada tahun 1997, Martrans Bandung Raya resmi bubar karena krisis keunangan yang dilanda klub.

Ari D. Sutedi selaku pemilik 65% saham klub Bandung Raya pada 2012 kemudian mengakuisisi seluruh saham Pelita Jaya dan mengganti nama klub tersebut menjadi Pelita Bandung Raya.

Pelita Bandung Raya sempat bermain di kompetisi Liga Super Indonesia musim 2012-2013.

2. Arseto Solo

Arseto merupakan klub asal Solo yang didirikan oleh putra mantan Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto, pada 1978.

Arseto pernah meraih sejumlah gelar sepanjang eksistensi di sepakbola Indonesia, antara lain Invitasi Perserikatan Galatama 1987, Liga Sepak Bola Utama 1990-1992, dan gelar Kejuaraan Antarklub ASEAN.

Prestasi itu tak terlepas dari pemain-pemain Timnas Indonesia yang saat itu memperkuat Arseto Solo seperti Ricky Yacobi, Eduard Tjong, hingga Nasrul Koto.

Arseto kemudian dinyatakan bubar pada 1998 seiring kerusuhan yang terjadi di Indonesia saat itu.

Pada 2013, sempat ada wacana untuk menghidupkan kembali Arseto. Namun, sampai saat ini rencana tersebut belum terwujud.

Baca Juga: Liga Indonesia Baru Diizinkan Mabes Polri Lakukan Uji Coba Laga Sepakbola Liga 1 dan Liga 2 Dihadiri Penonton

3. Krama Yudha Tiga Berlian

Krama Yudha Tiga Berlian merupakan klub asal Palembang yang akrab disingkat KTB Palembang dan dimiliki oleh PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motor Palembang.

Di Kompetisi Galatama, KTB dua kali meraih gelar juara yakni pada 1985 dan 1986-1987.

Penyerang legendaris Indonesia, Bambang Nurdiansyah, pernah memperkuat KTB dan sukses menjadi top skorer sekaligus memberikan gelar juara pada 1985.

Namun, sejumlah masalah ketika itu dihadapi KTB dan membuat finansial terganggu. Pada 1991, akhirnya KTB resmi membubarkan diri.

4. Niac Mitra

Klub asal Surabaya yang didirikan oleh pengusaha industri bioskop, Alexander Wenas, ini pernah begitu digdaya di Galatama dengan menjadi juara sebanyak tiga kali (1982, 1983, dan 1988).

NIAC Mitra bahkan sempat mendapatkan kehormatan bertanding melawan Arsenal di Stadion 10 November pada 1983.

Pada 1991, pemilik memutuskan untuk membubarkan NIAC Mitra karena mengalami masalah finansial.

Pada 1999, klub ini dibeli pemilik Barito Putra dari Banjarmasin yakni H. Sulaiman HB dan pindah markas ke ibu kota Kalimantan Tengah, Palangkaraya dan berganti nama menjadi Mitra Kalteng Putra (MKP), cikal bakal klub yang kini deknal dengan nama Mitra Kukar.

5. Pardedetex

Selain PSMS Medan, Sumatra Utara pernah dibuat bangga dengan hadirnya klub sepak bola bernama Pardedetex.

Klub ini didirikan oleh satu di antara orang terkaya di Indonesia saat itu, Tumpal Dorianus Pardede atau yang akrab disapa TD Pardede.

Pardedetex bisa dikatakan sebagai klub kaya di liga sepak bola profesional Galatama saat itu.

Sebagai buktinya, mereka merekrut pemain asing dari Brasil, Jairo Matos. Tentunya pembelian pemain asing pada masa itu masih sangat langka terjadi.

Pamor Pardedetex perlahan meredup seiring tidak stabilnya kompetisi sepakbola dengan mulai adanya kasus pengaturan skor. TD Pardede akhirnya membubarkan Pardedetex pada 1984.

Tags:
Liga IndonesiaGalatamaBandung RayaMitra Kukarsepak bola

Wildan Apriadi

Reporter

Wildan Apriadi

Editor