JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Di pinggir Jalan Kemanggisan Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (26/3) malam, Rasdi, 52 tahun, tampak duduk santai. Terselip sebatang kretek di tangan kanannya, sementara gerobak tuanya terparkir di sampingnya.
Malam itu, dia tak sendiri. Dua rekannya sesama pemulung ikut beristirahat setelah seharian mengais rezeki dari barang bekas.
"Abis muter-muter, memang biasa istirahat di daerah sini," kata Rasdi kepada Poskota, Rabu, 26 Maret 2025.
Sejak jam 5 sore, pria asal Indramayu ini sudah berkeliling mencari barang bekas yang bisa dijual. Dengan gerobak sederhana, dia menyusuri kawasan Kemanggisan, Palmerah, Slipi, dan sekitarnya.
Baca Juga: Dicuekin Desa, Warga Lebak Rela Patungan hingga Sumbang Tenaga untuk Bangun Jalan
Botol plastik, kardus bekas, dan barang-barang yang masih bisa didaur ulang, menjadi harta karun yang ia buru setiap hari. "Sehari itu biasanya paling dapat Rp70 ribu, paling gede ya Rp100 ribu," ujar Rasdi.
Bertahun-tahun menjalani profesi sebagai pemulung, Rasdi sudah terbiasa mengais barang bekas hingga dini hari. Barang yang dia kumpulkan ditampung di lapaknya di kawasan Kebon Jeruk. Jika sudah cukup banyak, barang-barang itu akan ditimbang dan dijual ke pengepul.
Di bulan Ramadan ini, Rasdi merasakan sedikit perubahan dalam penghasilannya. Ada rezeki tambahan yang datang dari tangan-tangan dermawan.
"Ada saja yang ngasih, kadang Rp20 ribu. Kalau bulan puasa kayak begini ada saja yang kasih cuma-cuma," tuturnya.
Baca Juga: Anak-Anak pun Jadi Korban RDF Rorotan, Diserang Penyakit ISPA Diawali Batuk
Sanadi, 52 tahun, rekan Rasdi, juga merasakan hal yang sama. Uang hasil mengumpulkan barang bekas ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Ya buat makan, buat kebutuhan sehari-hari saja sih," katanya.