JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Suasana Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta Timur terlihat semakin ramai menjelang bulan suci Ramadan.
Para pedagang terlihat sibuk menata dan menyortir berbagai jenis buah, terutama timun suri, yang menjadi primadona saat berbuka puasa.
Timun suri, yang dikenal dengan rasa manis dan segar, menjadi salah satu buah yang paling dicari oleh masyarakat selama bulan Ramadan.
Selama bulan suci ini, penjualan timun suri dapat mencapai angka yang mengesankan, yaitu sekitar tiga ton dalam satu hari selama bulan Ramadan.
Baca Juga: Kala Pemudik Dihantui Jalur Perangkap Maut
Harga timun suri di pasar ini dipatok sekitar Rp5.000 per kilogram, yang dianggap cukup terjangkau oleh masyarakat.
"Setiap tahun, penjualan timun suri selalu meningkat saat Ramadan. Buah ini menjadi salah satu menu favorit untuk berbuka puasa," kata Ubay, salah satu pedagang timun suri di Pasar Induk Kramat Jati.
Timun suri bukan hanya sekadar buah, tetapi juga memiliki makna khusus bagi umat Muslim. Buah ini sering kali menjadi simbol kesegaran dan kebersamaan saat berbuka puasa.
Banyak keluarga yang menjadikan timun suri sebagai salah satu hidangan utama di meja makan mereka.
Baca Juga: Gema Ledakan Meriam di Bulan Suci, Tradisi Puluhan Tahun Penanda Buka Puasa
Selain itu, timun suri juga dikenal memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga sangat baik untuk menghidrasi tubuh setelah seharian berpuasa.
Selain timun suri, pedagang di Pasar Induk Kramat Jati juga menyortir berbagai jenis buah lainnya yang biasa dikonsumsi saat berbuka puasa. Buah-buahan seperti kurma, semangka, dan jeruk juga mengalami peningkatan penjualan yang signifikan.
"Selama bulan Ramadan, penjualan buah-buahan segar meningkat drastis. Masyarakat lebih memilih buah-buahan yang mengandung banyak air untuk mengembalikan energi setelah berpuasa," kata Ipal, pedagang lain di pasar tersebut.
Kenaikan penjualan buah-buahan ini tidak hanya terjadi di Pasar Induk Kramat Jati, tetapi juga di berbagai pasar tradisional lainnya di Jakarta.
Banyak pedagang yang mengaku telah mempersiapkan stok buah-buahan lebih banyak dari biasanya untuk memenuhi permintaan yang meningkat.
"Kami sudah mempersiapkan stok buah sejak jauh-jauh hari. Kami berharap bisa memenuhi permintaan pelanggan selama Ramadan," kata dia.
Masyarakat pun menyambut baik lonjakan penjualan buah-buahan ini. Banyak dari mereka yang mengaku lebih memilih untuk membeli buah segar di pasar tradisional dibandingkan di supermarket.
"Saya lebih suka membeli buah di pasar karena lebih segar dan harganya juga lebih murah. Selain itu, saya juga ingin mendukung pedagang lokal," kata Sumarni, salah satu pembeli yang sedang berbelanja di Pasar Induk Kramat Jati.