JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Jalan Kemang Utara, yang menghubungkan Jalan Buncit Raya, Cilandak, dan Jalan Bangka menuju Jalan Tendean, dikenal dengan kemacetannya.
Di tengah kepadatan lalu lintas dan hiruk-pikuk kendaraan umum, ada sebuah bangunan tua yang menonjol di pojokan belokan.
Bangunan tersebut adalah Masjid Jami Al-Barkah, salah satu masjid tertua yang ada di kawasan Kemang Bangka, Jakarta Selatan.
Masjid Jami al-Barkah didirikan pada tahun 1818 oleh seorang tokoh bernama Guru Sinin, yang diyakini berasal dari Banten, sebagaimana dikutip dari laman resmi Islamic Center.
Baca Juga: Masjid Jami Al-Istiqomah, Tertua di Depok dan Nyaris Kena Gusur
Bangunan masjid ini memiliki gaya arsitektur kuno yang mirip dengan Masjid Demak dan masjid-masjid lain di Jawa. Meskipun usianya sudah lebih dari dua abad, masjid ini tetap menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat di sekitar Kemang Bangka.
Cerita sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi menyebutkan, Guru Sinin adalah seorang wali yang memiliki banyak pengikut. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat sekitar, yang sebagian besar merupakan jamaah setia al-Barkah.
Selain itu, masjid ini memiliki kedekatan dengan beberapa masjid lain di Jakarta Selatan yang dibangun pada periode yang sama, seperti Masjid Pedurenan, Masjid at-Taqwa, dan Masjid Istiqmal.
Baca Juga: Masjid Jami Al-Atiq, Tempat Sembunyi Si Pitung dari Kejaran Meester Cornelis
Menurut penuturan H. Ukib, salah seorang saksi sejarah yang merupakan generasi ketiga Masjid al-Barkah, proses pembangunan masjid ini tidaklah mudah.
Masjid ini dibangun di atas tanah rawa dengan kedalaman sekitar satu meter, yang memerlukan banyak usaha dan perizinan.
Selain harus dimusyawarahkan dengan para tokoh agama setempat, pembangunan masjid juga membutuhkan persetujuan dari pemerintah Kolonial Belanda pada waktu itu.
Pada awalnya, masjid dibangun dengan material seadanya, seperti daun rumbia dan batang pohon kelapa. Hampir seluruh tiangnya terbuat dari kayu kelapa, dan atapnya menggunakan daun rumbia.
Seiring berjalannya waktu, masjid ini mengalami beberapa perbaikan dan renovasi. Pada tahun 1932, bahan papan mulai digunakan untuk membangun masjid, yang diperoleh dari jamaah setempat.
Pembenahan masjid terus berlanjut pada tahun 1935, 1950, 1960, dan 1970, dengan perubahan yang semakin mempercantik masjid. Puncaknya, pada tahun 1985, renovasi masjid pun mencapai tahap yang lebih sempurna dengan penggunaan ubin keramik dan atap dari bahan eternit, seperti masjid pada umumnya.
Salah satu hal yang membuat Masjid Jami al-Barkah unik adalah keberadaan makam-makam tua di bagian belakang masjid, tepatnya di sisi barat bangunan.
Makam tersebut menjadi tempat peristirahatan bagi beberapa tokoh penting. Mereka adalah Guru Sinin, yang wafat pada tahun 1920, KH. Ridi, menantu Guru Sinin, yang meninggal pada tahun 1933, dan KH Naisin, anak KH. Ridi, yang wafat pada usia 132 tahun. Adapun KH. Naisin adalah ayah dari H. Ukib.