Menurut cerita rakyat, ketupat berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat Lebaran tepatnya di masa syiar Islamnya pada abad ke 15 hingga abad ke 16.
Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islamannya.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Memperbanyak Istighfar Sangat Dianjurkan di 10 Hari Terakhir Ramadhan
Namun, tak memungkiri bahwa ketupat bisa jadi berasal dari zaman yang lebih lama, yakni pada zaman Hindu-Budha di Nusantara.
Hal tersebut merujuk pada zaman pra Islam. Nyiur dan beras sudah dimanfaatkan untuk makanan oleh masyarakat sebagai sumber daya alam.
Begitupun masyarakat Bali. Hingga saat ini ketupat atau disebut masyarakat Bali sebagai tipat, masih digunakan untuk ritual ibadah.

Dalam Islam, ketupat dicocokkan kembali dengan nilai-nilai ke-Islaman oleh Sunan Kalijaga.
Baca Juga: Benarkah Ada Pahala Saat Mentraktir Orang Berbuka Puasa? Ternyata Ini Penjelasannya
Sunan Kalijaga membaurkan pengaruh Hindu pada nilai-nilai ke-Islaman, menjadi akulturasi yang padu antara keduanya.
Makna ketupat Lebaran, masyarakat Jawa dan Sunda menyebut ketupat sebagai kupat. Kupat yang berartikan ngaku lepat atau mengakui kesalahan.
Ketupat Lebaran memiliki simbol lain yaitu laku papat (empat laku) yang melambangkan empat sisi dari ketupat.
Laku papat atau empat tindakan itu adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Maksud dari keempat tindakan tersebut adalah, Lebaran berasal dari kata lebar yang berarti selesai.